About

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto Saya
biasa2 saja...gak ganteng2 amat gak jelek2 amat...tapi banyak yang suka...hanya kurang PD aja,tapi selalu berfikir POSITIF...berserah diri pada ALLAH SWT.

talk n think my Blog

Memuat...

Sabtu, 30 Juli 2011

Materi Pendidikan IPS

Materi Pendidikan IPS
Pendahuluan
Manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak hidup menyendiri melainkkan
senantiasa berinteraksi sosial, berkomunikasi, berhubungan dengan alam sekitar berkipra
dengan lingkungan beragam situasi dan kondisi, yang dapat berdampak positif atau
berisiko negatif, yang semuanya memerlukan kajian serta pembenahan oleh berbagai
disiplin ilmu agar kerukunan, keharmonisan eksistensinya berkembang, bertambah baik
dari waktu ke waktu.
Bahan Belajar Mandiri ini untuk membekali Anda mengkaji, menganalisis lebih
seksama wawasan IPS, sehingga diharapkan Anda memiliki kemampuan:
1. Hakekat dan Rasional IPS.
2. Paradigma Pendidikan IPS dalam konteks Indonesia.
3. Materi Pendidikan IPS
Semua kemampuan diatas sangat penting bagi semua mahasiswa calon sarjana dan atau
calon guru professional dalam mempersiapkan diri dalam penguasaan Ilmu Pengetahuan
Sosial dan ilmu-ilmu sosial sebagai bahan pembelajaran di sekolah dasar. Hal ini sangat
penting bagi mahasiswa guru dan atau calon guru pemula yang sering mengalami
hambatan/kesulitan dalam memahami pelajaran IPS dan ilmu-ilmu sosial.
Khusus bagi calon guru kelas dan guru pemula mata pelajaran IPS di SD, diharapkan
agar sedapat mungkin memperbanyak pengkajian untuk pengembangan materi
pembelajaran IPS sehingga proses kegiatan belajar mengajar akan lebih menarik dan
diharapkan siswa akan belajar lebih antusias. Dengan demikian Anda akan terbantu dan
tidak mengalami kesulitan dalam pengembangan materi pembelajaran.
Apabila Anda telah memiliki kemampuan dan penguasaan konsep-konsep dasar ilmu
sosial secara mendalam, mengemas dan mengembangkan bahan pelajaran secara baikbaik,
disesuaikan dengan kebutuhan siswa juga disesuaikan dengan tujuan pendidikan
nasional maka diharapkan siswa merasa terbantu dalam proses belajarnya.
Untuk membantu Anda dalam mencapai tujuan kemampuan di atas ikutilah petunjukpetunjuk
sebagai berikut :
1. bacalah dengan cermat bagian pendahuluan samapai Anda memahami betul-betul
apa, untuk apa dan begaimana cara mempelajari ,modul ini.
2. Bacalah sepintas bagian demi bagian dan temukan kata-kata kunci yang Anda
anggap baru carilah baca pengertian kata-kata sulit (glosarium) atau dalam kamus
atau ensiklopedia
3. Silahkan Anda fahami pengertian dari isi modul ini melalui persepsi Anda sendiri
dan Atau tukar pikiran dengan mahsiswa lain atau dengan tutor Anda.
KB.1. Hakikat dan Rasionalisasi Bidang Studi IPS.
Apa itu IPS ? Manusia selain sebagai makhluk Tuhan juga sebagai makhluk sosial
yang dalam hidup dan kehidupannya tidak bisa terlepas dengan sesama manusia lain,
artinya tidak bisa hidup sendiri-sendiri tanpa adanya interaksi, berkomunikasi,
berhubungan dengan lingkungan alam sekitar dimanapun berada dengan beragam situasi
dan kondisi, baik yang berdampak positif maupun yang berdampak negatif terhadap
hidup dan kehidupan sosial budaya manusia Indonesia.
Sadar serta mengalami berbagai situasi kehidupan tersebut, manusia berupaya merespon
mengantisipasi berbagai peermasalahannya, maka menimbulkan berbagai pemikiran,
memunculkan berbagai konsep yang terus menerus secara berkesinambungan dikaji,
dianalisis, dirangkum, disimpulkan sehingga menjadi ilmu, yang diberi nama Sosiologi,
Ilmu Pengetahuan Sosial.
Di bawah ini marilah kita simak pengertian ilmu pengetahuan sosial dari beberapa
orang para akhli.
Udin. S Winataputra dkk. Pilar histories-epiotemologis. Social studies yang pertama,
berupa suatu definisi tentang “social studies” yang dipancangkan oleh Edgar Bruce
Wesley pada tahun 1937 (Barr, Barth, dan Shermis, 1977:1-2 ) yaitu The social Studies
are the social sciences simplified pedagogical purposes . artinya adalah ilmu-ilmu sosial
yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan. Pengetian ini kemudian dibakukan dalam
The United States of Education’s Standard Terminologi for Curriculum and Instruction
( dalam Darr dan kawan-kawan, 1977:2) sebagai berikut :the social studies comprised of
those aspects of history ,economics, politick, science, sociology, anthropology,
psychology ,geography, and philosophy which in practice are selected for purposes in
schools and college.
Maksudnya, bahwa social studies berisikan aspek-apek ilmu sejarah, ilmu ekonomi, ilmu
politik, sosiologi, antropologi, psikologi, dan filsafat, yang dipilih untuk tujuan
pembelajaran sekolah dan perguruan tinggi.
Hamid Hasan, beliau berpendapat bahwa istilah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
merupakan mata pelajaran ditingkat sekolah atau nama program studi di perguruan tinggi
yang identik dengan istilah ”social studies” dalam kurikulum di negara lain
khususnyanya di negara-negara Barat seperti Australia dan Amarika Serikat. Namun
pengertian IPS di tingkat persekolahan itu sendiri mempunyai perbedaan makna,
khususnya pelajaran IPS untuk SD dengan IPS untuk sekolah Menengah Pertama (SMP)
dan IPS untuk Sekolah Menengah Atas (SMA).
Pengertian IPS di persekolahan tersebut ada yang berarti program pengajaran, ada
yang berarti mata pelajaran yang berdiri sendiri, ada yang mengartikan sebagai gabungan
(paduan) dari sejumlah mata pelajaran atau beberapa disiplin ilmu. Perbedaan ini dapat
diidentifikasikan dari perbedaan pendekatan yang diterapkan pada masing-masing
jenjang persekolahan. Pada dasarnya disiplin-disiplin ini adalah sumber utama materi
pendidikan untuk ilmu-ilmu sosial. Materi pendidikan adalah apa yang dipelajari siswa
untuk mencapai tujuan pendidikan, dalam hal ini tujuan kurikulum ilmu-ilmu sosial .
termasuk dalam pengertian materi ini ialah substansi dan proses yang berasal dari disiplin
ilmu-ilmu sosial. Pendidikan ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan materi yang
diajarkan dalam rangka pengembangan manusia seutuhnya. Selanjutnya beliau
menyarankan pengertian substansi ilmu-ilmu sosial umum yang terdiri atas pandangan,
tema, topik, fenomena, fakta, peristiwa, prosedur, konsep, generalisasi dan teori, yang
secara tradisonal biasanya dinamakan materi kurikulum. Kurikulum adalah hal-hal yang
berhubungan dengan pokok-pokok bahasan yang berdasarkan pandangan, tema,
fenomena, fakta, konsep dan sebagainya. Sedangkan menurut pandangan baru
memasukan ke dalam pngertian materi kurikulum adalah proses, prosedur, dan langkahlangkah
yang harus dilaksanakan oleh siswa dalam menyelesaikan aspek-aspek
substantif. Dalam menyelesaikan kurikulum ini diartikan sebagai apa yang dipelajari dan
bagaimana mempelajarinya.
Nursid Sumaatmadja (1980; 7-8) berpendapat bahwa studi sosial (Social
Studies) berbeda dengan ilmu-ilmu sosial. Studi sosial bukan merupakan bidang
keilmuan atau disiplin akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian
tentang gejala dan masalah sosial, untuk mengkaji masalah-masalah sosial tentunya studi
sosial lebih bersifat praktis dari pada akademis teoritis. Hal ini didasarkan pada bentuk
gejala dan mendesak. Oleh karena itu pendekatannya digunakan bersifat interdisipliner,
multidisipliner, dan terpadu (integrated). Dengan demikian, bentuk dan studi sosial lebih
banyak menunjukkan pada program studi gabungan yang berasal dari berbagai disiplin
ilmu.
Selanjutnya “NCSS” – National Council for the Social Studies (NCSS ; 1983)
mengemukakan : “Pada dasawarsa 1980-an perkembangan social studies ditandai oleh
lahirnya dua pilar akademis, yaitu Report of the National Council for Social studies Task
Force on Scope and Sequence berjudul “In search of A Scope and Sequence for Social
Studies (NCSS :1983)m dan A report of the Curriculum Task Force of the National
Commission on Social Studies in the School” yang berjudul “Charting A Course : Social
Studies for 21” Century (NCSS: 1989). Laporan pertama menghasilkan definisi, tujuan,
lingkup, dan urutan materi mulai dari “Kindergarten” sampai dengan kelas XII (High
School), rincian “democratic beliefs an values”, dan rincian Skill in Social Studies
Curriculum
Definisi ”social studies” yang diajukannya adalah:
“Social Studies is basic subject of the K-12 curriculum that (1) derives its goal from
the nature citizenship in a democratic society that is closely linked to other nations
an peoples of the word; (2) draw its content primarily from history, the social
sciences, and in some respect from humanities of the personal; and (3) is tought in
ways that reflect an awareness of the personal, social, and cultural experiences and
developmental of leaner” (NCSS, 1983:251).
Yang rumusan tujuannya adalah sebagai berikut:
“Social studies programs have responsibility to prepare young people to identify,
understands and work to solve problems that face our increasingly diverse nation
and interdependence word. Over the past several decades, the professional
consensus has been that such programs ought to include goals in the broad areas
of knowledge, democratic value, and skills. Program that combine that acquisition
of knowledge and skill with the application of democratic values to life, through
social participation present an ideal balance in social studies. It is essential that
these major goals be viewed au equally important. The relationship among
knowledge, values, and skills is one of mutual support” (NCSS, 1983: 251)
“Social studies” kalau dilihat dari definisi dan tujuannya akan tersurat dan tersirat
sebagai berikut : Pertama, merupakan mata pelajaran dasar diseluruh jenjang
pendidikan persekolahan; kedua tujuan utama mata pelajaran ini ialah
mengembangkan siswa untuk menjadi warga negara yang memiliki pengetahuan,
nilai, sikap, dan keterampilan yang cukup untuk berperan serta dalam kehidupan
demokrasi; ketiga, konten atau isi pelajarannya digali dan diseleksi dari sejarah dari
ilmu-ilmu sosial, serta dalam banyak hal dari humaniora dan sain, dan keempat,
pembelajarannya menggunakan cara-cara yang mencerminkan kesadaran
bermasyarakat, pengalaman budaya dan perkembangan pribadi siswa
Menurut laporan NCSS yang kedua dalam Udin S.Winataputra “Charting a course”
nampak jelas upaya untuk mempertegas visi, misi dan strategi sosial studies dalam
laporan NCSS yang pertama Scope and Sequency. Menurut laporan tersebut untuk abad
ke-21, social studies curriculum seyogyanya memiliki ciri-ciri yang menitik beratkan
pada roles of citizen in democracy; memberikan “consisten and cumulative learning from
kindergarten through 12 th grade” menuntut history and geography should provide
matrix of framework for social studies” memusatkan kurikulum bukan hanya pada
“major civilization and societies; mengembangkan jaringan keterkaitan ilmu social
dengan the humanities and the natural and physical sciences; menempatkan konten untuk
diperlakukan sebagai hal yang harus diterima dan diingat menuntut penerapan proses
pembelajaran interaktif, seperti writing, observing, debating, role-play or simulation,
working with statiscal data using, eritical thingking skill, memanfaatkan (media dan
sumber belajar; pemberian dukungan dari seluruh jajaran pengelola pendidikan dan
menempatkan essential knowledge dalam pembelajaran di setiap jenjang pendidikan
persekolahan.
Supriya dalam James A. Bank (1990:3) dalam bukunya “Teaching Strategis for the
social studies” mendefinisikan social studies adalah sebagai bagian dari kurikulum
sekolah dasar dan menengah yang mempunyai tanggung jawab pokok untuk membantu
para siswa dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang
diperlukan dalam hidup bernegara di lingkungan masyarakatnya. Menurut Bank, tujuan
mengembangkan kompetensi dan keterampilan hidup bernegara merupakan tujuan
utamanya (its primary goal).
Welton dan Mallan memandang bidang studi social sebagai mata pelajaran
gabungan yaitu : (1) disiplin ilmu-ilmu sosial; (2) temuan-temuan (atau pengetahuan)
yang berasal dari disiplin ilmu-ilmu social dan (3) proses-proses yang dilakukan oleh
ilmuwan sosial dalam menghasilkan temuan atau pengetahuan itu. Secara singkat Welton
dan Mallan merumuskan defenisi studi social sebagai berikut ……” Sosial studies as a
composite subject area based
Rasionalisasi
Indonesia adalah suatu negara yang besar dan luas, yang terdiri dari beribu-ribu
pulau, baik pulau besar maupun pulau kecil, membentang dari Sabang sampai Maroke
beragam etnik dan kebudayaan, yang kaya dengan sumber daya alamnya, baik yang ada
di laut maupun yang ada di darat, seperti hutan, tambang, flora dan fauna. Negara yang
dibangun dengan banyak pengorbanan dari para pahlawan dengan mempertaruhkan
nyawanya untuk memperjuangkan kemerdekaan, sehingga menjadi suatu negara
kesatuan. Selain memiliki potensi kekayaan alam juga memiliki populasi penduduk yang
sangat besar jumlahnya dengan berbagai perbedaan strata sosial, etnik, ras, suku, agama
dan kebudayaan. Semua itu perlu dipelajari, difahami dan disadari, sehingga akan tumbuh
rasa persatuan dan kesatuan, patriotisme, nasionalisme dan etos kerja pada diri siswa
untuk membangun bangsa dan negara agar maju dan berkembang sejajar dengan negaranegara
lain yang sudah maju.
Ilmu pengetahuan sosial adalah suatu mata pelajaran yang mengajarkan kepada
siswa dari mulai SD /MI, agar mereka dapat mengenal berbagai fenomena-fenomena
lingkungan alam sekitarnya sampai dengan fenomena-fenomena dunia.
Dalam kenyataannya, hidup dan kehidupan manusia ini tidak dapat dipisahkan
antara satu dengan yang lain. Setiap kegiatan yang dilakukan manusia akan berdampak
pada lingkungannya. Dalam mempertahankan hidupnya manusia akan saling
ketergantungan baik dengan sesama manusia maupun dengan dunia. Manusia perlu
memahami hubungan yang sangat kompleks ini . Oleh sebab itu, pembelajaran Sejarah,
Geografi, Sosiologi, Antropologi dan Ekonomi di SD/MI dipadukan pada mata pelajaran
Ilmu Sosial. Integrasi lurikulum Ilmu sosial ini diwadahi dalam topik-topik yang dekat
dengan lingkungan sosial dimana anak itu berada. Hal ini diharapkan dalam
merencanakan pelajaran tersebut menjadi lebih bermakna dan menarik bagi siswa
daripada mengacu pada disiplin ilmu-ilmu tersebut.
Ilmu sosial merupakan suatu pendekatan terhadap hal-hal yang berkenaan dengan
manusia dengan masyarakat dan lingkunganya. Ilmu sosial ini mempelajari tentang
aspek-aspek sosial, spiritual, emosional, intelektual, rasional dan global dengan
memadukan konsep-konsep serta bahan kajian tradisional dengan bidang kajian yang
baru.
Untuk dapat melaksanakan pembelajaran Ilmu Sosial yang efektif, sangat penting
bagi guru adalah mengetahui perjalanan belajar siswa usia muda. Karena pada usia muda
ini siswa memiliki rasa ingin tahu yang alami tentang lingkungan sosial dan lingkungan
alam mereka. Selain mereka berinteraksi, mereka juga merupakan bagian dari berbagai
kelompok termasuk keluarga, teman, masyarakat yang membawa berbagai pengalaman
dan pengetahuannya ke sekolah.
Dalam pengembangan kurikulum Ilmu Sosial yang harus dipertimbangkan adalah
permasalahan-permasalahan yang pernah dialami pada kurikulum sebelumnya. Mata
pelajaran IPS SD pada kurikulum tahun 1994 menyebutkan bahwa IPS di Sekolah Dasar
terdiri atas kajian: Pengetahuan Sosial dan Sejarah. Jadi kurikulum IPS SD merupakan
kesimpulan dari kedua bahan kajian tersebut.
Permasalahannya adalah kurikulum tahun 1994 masih mengandung terlalu banyak
materi dan bahan kajian. Oleh karena itu perbaikan kurikulum yang dilakukan saat ini
adalah melakukan integrasi bahan-bahan kajian dari limu-ilmu sosial.
Perbedaan antara kurikulum tertulis dan kurikulum terlaksana merupakan
permasalahan lain yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan indentifikasi permasalahan
kurikulum sebelumnya disebutkan bahwa ruang lingkup yang luwes pada masing-masing
materi menyebabkan penulis buku dan guru mengalami kesulitan dalam menetapkan
kedalaman dan keluasan materi. Akibatnya adalah masih terdapat beberapa materi SD
yang lebih tinggi dan lebih kompleks dari yang atasnya. Untuk mengatasi permasalahan
tersebut perlu dikembangkan kurikulum Ilmu Sosial yang terintegrasi dan berbasis pada
kemampuan dasar. Kemampuan dasar adalah merupakan uraian kemampuan yang
memadai atas pengetahuan, keterampilan dan sikap mengenai materi pokok. Kemampuan
itu harus dimiliki dan dikembangkan secara maju dan berkelanjutan seiring dengan
perkembangan siswa
Paradigma Pendidikan IPS dalam konteks Indonesia
Pemikiran tentang konsep pendidikan IPS di Indonesia banyak dipengaruhi oleh
pemikiran social studies dari negara Barat yaitu dari Amerika Serikat, yang merupakan
salah satu negara yang kita anggap sebagai negara yang memiliki pengalaman panjang
dan reputasi akademis yang signifikan dalam bidang ilmu sosial.. Reputasi tersebut dalam
perkembangan pemikiran mengenai bidang itu, seperti yang telah dipublikasikan
pertama kali oleh National Council for the Social Studies (NCSS) pada tanggal 28-30
November 1935 sampai sekarang
Konsep Ilmu Pengetahuan untuk pertama kalinya masuk dalam dunia persekolahan
terjadi pada tahun 1972-1973, yakni :dalam Kurikulum Proyek Perintis Sekolah
Pembangunan (PPISP) IKIP Bandung. Yang secara kebetulan beberapa pakar yang
menjadi pemikir dalam Seminar Civic Education di Tawangmangu, seperti Achmad
Sanusi, Noeman Somantri, Achmad Djahiri, dan Dedih Suwardi semuanya berasal dari
IKIP Bandung, dan pada pengembangan Kurikulum PPSP FKIP Bandung berperan
sebagai anggota tim. Dalam Kurikulum SD 8 tahun PPSP digunakan istilah “Pendidikan
Kewargaan Negara/Studi Sosial” sebagai mata pelajaran terpadu. Penggunaan garis
miring nampaknya mengisyaratkan adanya pengaruh dari konsep pengajaran social yang
walaupun tidak diberi label IPS, telah diadopsi dalam Kurikulum SD tahun 1968.
Tentang kurikulum 1968 mengalami sedikit perubahan dari “Pengetahuan
Kewarganegaraan” menjadi “Pendidikan Kewarganegaraan”, namun dalam lingkup
materinya hampir sama. Adapun didalamnya cercakup mata pelajaran Sejarah Indonesia,
Ilmu Bumi Indonesia, dan Civic atau disebut Pengetahuan Kewargaan Negara. Pada
Kurikulum SD tahun 1975 unsur Pendidikan Kewargaan Negara dipisahkan dari
pengajaran IPS, dan dijadikan bidang pengajaran tersendiri dengan nama “Pendidikan
Moral Pancasila” (PMP). Pengajaran PMP diajarkan sejak kelas I Sekolah Dasar,
sedangkan pengajaran IPS diajarkan sejak kelas III Sekolah Dasar. Hal ini dimaksudkan
materi pelajaran yang diajarkan pada kelas I SD tidak terlalu memberatkan siswa, karena
materi IPS menuntut siswa untuk banyak membaca buku teks, sedangkan kemampuan
membaca mereka masih sangat terbatas. Dalam Kurikulum 1975 pendidikan IPS
menampilkan empat propil, yakni (1) Pendidikan Moral Pancasila menggantikan
Pendidikan Kewargaan Negara sebagai suatu bentuk pendidikan IPS khusus yang
mewadahi tradisi citizenship transmission; (2) pendidikan IPS terpadu untuk Sekolah
Dasar; (3) pendidikan IPS terkonfederasi untuk SMP yang menempatkan IPS sebagai
konsep payung yang menaungi mata pelajaran geografi, sejarah, dan ekonomi koperasi;
dan (4) pendidikan IPS terpisah-pisah yang mencakup mata pelajaran sejarah, geografi,
dan ekonomi untuk SMA, atau sejarah dan geografi untuk SPG (Dep. P dan K, 1975a;,
1975b, 1975c; dan 1976). Semua konsep pendidikan di atas tetap dipertahankan dalam
kurikulum 1984, yang secara konseptual merupakan penyempurnaan kurikulum 1975.
Penyempurnaan materi disesuaikan dengan perkembangan baru pada masing-masing
disiplin, yaitu dengan masuknya Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4)
sebagai materi pokok Pendidikan Moral Pancasila.
Pada Kurikulum 1994 yaitu kurikulum yang menggantikan Kurikulum 1984,
dimana pendidikan Pancasila dan pendidikan Kewarganegaraan dijadikan satu mata
pelajaran yaitu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Nama dan ruang
lingkupnya hampir sama, artinya tidak banyak mengalami perubahan, perbedaannya pada
Kurikulum 1994 lebih mengutamakan pendekatan inquiry., sehingga siswa memiliki
keterampilan dalam memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan dengan
menggunakan konsep-konsep ilmu sosial. Karena pelajaran ini berfungsi untuk
mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar untuk melihat tentang kenyataan
sosial yang dihadapi oleh siswa dalam kehidupannya sehari-hari. Mata pelajaran PPKn
pada Kurikulum IPS tahun 1994 merupakan mata pelajaran yang khusus dan wajib diikuti
oleh semua siswa pada setiap jenjang pendidikan dari mulai SD sampai dengan SMU.
Mata pelajaran diwujudkan : (1) pendidikan IPS terpadu di SD kelas III sampai dengan
kelas VI; (2) pendidikan IPS terkonfederasi di tingkat SLTP yang mencakup mata
pelajaran sejarah, geografi, dan ekonomi koperasi; (3) pandidikan IPS yang terpisahpisah
yang mirip dengan tradisi in social studies taught as social science (Barr dan
kawan-kawan (1978). Pendidikan IPS terpisah-pisah yang terdiri atas mata pelajaran
Sejarah Nasional dan Sejarah Umum di kelas I dan II; Ekonomi dan Geografi di kelas I
dan II, Sosiologi ; Sosiologi di kelas II; Sejarah Budaya di kelas III Program Bahasa;
Ekonomi, Sosiologi, Tata Negara, dan Antropologi di kelas III Program IPS.
Semua mata pelajaran sosial mempunyai tujuan yang beragam atau bervariasi. Mata
pelajaran Sejarah Nasional dan Sejarah Umum bertujuan untuk “….menanamkan
pemahaman tentang perkembangan masyarakat masa lampau hingga sekarang,
menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air, serta bangga sebagai warga bangsa
Indonesia, dan memperluas wawasan hubungan masyarakat antar bangsa di dunia”
(Depdikbud, 1993: 23-24). Dimensi tujuan tersebut pada dasarnya mengandung esensi
pendidikan kewarganegaraan atau tradisi “citizenship transmission” (Bar, dan kawankawan:
1978). Mata pelajaran Ekonomi bertujuan untuk memberikan pengetahuan
konsep-konsep dan teori sederhana dan menerapkannya dalam pemecahan masalahmasalah
ekonomi yang dihadapinya secara kritis dan obyektif (Depdikbud, 1993: 29).
Sedang untuk program IPS mata pelajaran ekonomi ini bertujuan untuk “…memberikan
bekal kepada siswa mengenal beberapa konsep dan teori ekonomi sederhan untuk
menjelaskan fakta, peristiwa, dan masalah ekonomi yang dihadapi” (Depdikbud, 1993:
29). Dari rumusan tujuan tersebut dapat ditafsirkan bahwa tujuan pendidikan Ekonomi di
SMU baik untuk program umum maupun untuk program IPS mengisyaratkan
diterapkannya tradisi social studies taught as social science (Barr, dan kawan-kawan:
1978). Tradisi ini tampaknya diterapkan juga dalam mata pelajaran Sosiologi, Geografi,
Tata Negara, Sejarah Budaya, dan Antropologi sebagaimana dapat dikaji dari masingmasing
tujuannya. Mata pelajaran Sosiologi memiliki tujuan “…untuk memberikan
kemampuan memahami secara kritis berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari
yang muncul seiring dengan perubahan masyarakat dan budaya, menanamkan kesadaran
perlunya ketentuan masyarakat, dan mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi
sosial budaya sesuai dengan kedudukan, peran, norma, dan nilai sosial yang berlaku di
masyarakat” (Depdikbud, 1993: 30). Sementara itu mata pelajaran Geografi memusatkan
perhatian pada upaya .”…untuk memberikan bekal kemampuan dan sikap rasional yang
bertanggung jawab dalam menghadapi gejala alam dan kehidupan di muka bumi serta
permasalahannya yang timbul akibat interaksi antara manusia dengan lingkungannya”
(Depdikbud, 1993: 30). Sedangkan untuk mata pelajaran Tata Negara menggariskan
tujuan “…untuk meningkatkan kemampuan agar siswa memahami penyelenggaraan
negara sesuai dengan tata kelembagaan negara, tata peradilan, sistem pemerintahan
negara RI maupun Negara lain” (Depdikbud, 1993: 31).
Menyimak perkembangan “social studies” secara umum dan Pendidikan IPS di
Indonesia saat ini maka perlu adanya reorientasi pendidikan IPS sebagai berikut :
1. Menegaskan kembali visi pendidikan IPS sebagai program pedidikan yang
menitikberatkan pada pengembangan individu siswa sebagai “aktor sosial” yang
mampu mengambil keputusan yang bernalar dan sebagai ”warga negara yang cerdas,
memiliki komitment, bertanggung jawab, dan partisipatif”.
2. Menegaskan kembali misi pendidikan IPS untuk memanfaatkan konsep, prinsip, dan
metode ilmu-ilmu sosial dan bidang keilmuan lain untuk mengembangkan karakter
aktor sosial dan warga Negara Indonesia yang cerdas dan baik.
3. Memantapkan kembali tradisi pendidikan IPS sebagai pendidikan kewarganegaraan
yang diwadahi oleh mata pelajaran Kewarganegaraan dan sebagai pendidikan sosial
ang diwadahi oleh mata pelajaran 1 IPS terpadu dan mata pelajaran ILPS terpisah.
4. Menata kembali sarana programatik pendidikan IPS untuk berbagai jenjang
pendidikan (Kurikulum, Satuan Pelajaran, dan Buku Teks) sehingga memungkinkan
tercapainya tujuan pendidikan IPS.
5. Menata kembali system pengadaan dan penyegaran guru pendidikan IPS sehingga
dapat menghasilkan calon guru dan guru pendidikan IPS yang profesional.
L A T I H A N
1. Apa yang dimasud dengan definisi IPS yang dikemukakan oleh Edgar Bruce dan
Wesley?
2. Apa yang dimaksud dengan peengertian IPS di tingkat persekolahan mempunyai
perbedaan makna ?
3. Apa yang dimaksud dengan Citizenship Transmision ?
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pendekatan Integrated.?
Petunjuk Jawaban latihan
1. The Social Studies are the social sciences simplified pedagogical purpose, yang
artinya adalah ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan
2. pengertian IPS persekolahan tersebut ada yang berarti program pengajaran, ada
yang berarti mata pelajaran yang berdiri sendiri dan ada yang mengartikan
sebagai gabungan dari sejumlah mata pelajaran itu terdiri dari beberapa disiplin
ilmu
3. yang dimaksud dengan citizen transmission adalah dimana pendekatan
pembelajaran IPS ditujukan untuk membentuk siswa agar menjadi warga negara
yang baik, jadi materi yang disajikan lebih banyak yang berhubungan dengan
kewarganegaraan
4. yaitu materi IPS dalam kurikulum dituangkan secara terpadu (terintegrasi),
sehingga tidak terlihat lagi warna dan ciri-ciri khas ilmu-ilmu sosial yang
menunjang (seperti geografi, sejarah, ekonomi dan sebagainya.
Rangkuman
Ilmu Sosial adalah suatu mata pelajaran yang mengajarkan kepada siswa dari
mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi, agar mereka dapat mengenal berbagai
fenomena-fenomena lingkungan sekitarnya sampi dengan fenomena-fenomena dunia.
Ilmu sosial merupakan suatu pendekatan terhadap hal-hal yang berkenaan dengan
manusia, masyarakat dan lingkungan, karena ilmu sosial mempelajari tentang aspekaspek
sosial, spiritual, emosional, intelektual, rasional, dan global dengan memadukan
konsep-konsep serta bahan kajian tradisional dengan bidang – bidang kajian yang baru.
Untuk dapat melaksanakan pembelajaran Ilmu-ilmu Sosial dengan efektif, maka
guru harus mengetahui dan memahami tentang perjalanan belajar siswa dalam usia muda,
dimana pada usia muda ini siswa memiliki rasa ingin tahu yang alami tentang lingkungan
alam dimana mereka berada. Selain mereka berinteraksi, mereka juga merupakan bagian
dari berbagai kelompok termasuk keluarga, teman, masyarakat yang membawa berbagai
pengalaman dan pengetahuannya ke sekolah.
Dalam pengembangan kurikulum Ilmu Sosial yang harus diperhatikan dan perlu
dipertimbangkan adalah permasalahan-permasalahan yang pernah dialami pada
kurikulum sebelumnya.
Pemikiran tentang konsep pendidikan IPS di Indonesia banyak dipengaruhi oleh
pemikiran sosial studies dari negara Barat yaitu dari Amerika Serikat, yang merupakan
salah satu Negara yang kita anggap sebagai warganegara yang memiliki pengalaman
panjang dan reputasi akademis yang signifikan dalam bidang ilmu sosial.
TES FOMATIF 1.
Petunjuk : Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling tepat!
1. Istilah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah merupakan mata pelajaran ditingkat
sekolah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah
“social studies”. Istilah ini dikemukakan oleh …
A. Hamid Hasan
B. Ki Hadjar
C. Nursid Sumaatmadja
D. Udin. S Winataputra.
2. Pengertian IPS dipersekolahan ada yang berarti program pengajaran, ada yang berarti
mata pelajaran yang berdiri sendiri, ada yang mengartikan sebagai gabungan dari
sejumlah mata pelajaran atau beberapa disipilin ilmu. Perbedaan ini dapat
diidentifikasikan dari…
A. Perbedaan pendekatan masing-masing program
B. Perbedaan pendekatan yang diterapkan pada masing-masing jenjang persekolahan
C. Perbedaan pendekatan disipplin ilmu
D. Perbedaan dari sekolah masing-masing.
3. “NCSS” merupakan singkatan dari…
A. National Commission for the Studi Social
B. National Curriculum for the Social Studies.
C. National Council for the Social Studies.
D. National Commite for the Social Studies.
4. Seorang guru SD mengajarkan IPS dengan tema “Kebakaran”, namun guru tersebut
menghunungkan materi dengan materi pelajaran IPS, Matematika, Bahasa Indonesia,
Olah raga dan Kesehatan. Dengan demian guru itu telah menerapkan proses
pembelajaran
A. Intregrated
B. Multidisipliner
C. Interdisipliner
D. Terpisah.
5. Pendidikan ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan materi yang diajarkan, hal ini
sangat penting dalam rangka…
A. manusia seutuhnya
B. manusia yang mampu berdiri sendiri
C. manusia yang berjwa sosial
D. manusia yang tergantung kepada orang lain.
6. Indonesia adalah negara yang majemuk, baik dilihat dari sisi agama, ras dan budaya.
Perbedaan dalam bahasa daerah termasuk kemajemukan dari sisi :
A. Agama
B. Ras.
C. Budaya
D. Mata pencaharian.
7. Terdapat beberapa suku bangsa dan ras di Indonesia, diantaranya adalah sebagai
berikut, kecuali :
A. Suku bangsa Kubu di Jambi
B. Suku Baduy di Jawa Barat
C. Suku bangsa Dayak di Kalimantan
D. Suku bangsa Aborijin di Sulawesi.
8. Wujud dari kebudayaan itu ada tiga macam, yaitu
A. Ide (gagasan), kegiatan, dan hasil karya
B. Ide (gagasan), hasil karya dan mata pencaharian
C. Bahasa, kesenian, dan adat istiadat
D. Norma, hukum, dan nilai-nilai.
9. Pemikiran tentang konsep pendidikan IPS di Indonesia bantak dipengaruhi oleh
pemikiran social stufies dari Barat, yaitu dari Negara…
A. Amerika Serikat
B. Inggris
C. Jepang
D. India.
10. Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial untuk pertama kali masuk dalam dumia
persekolahan terjadi pada tahun…
A. 1978-1980
B. 1974-1976
C. 1972-1973
D. 1986-1987
BALIKAN & TINDAK LANJUT
Cocokkanlah jawaban anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat
dibagian akhir Bahan Belajar Mandiri ini. Hitunglah jumlah jawaban anda yang benar,
kemudian gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda dalam
materi Kegiatan Belajar 2.
Rumus
Tingkat Penguasaan = 100%
10
´ JumlahjawabanAndayangbenar
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai
90 % -100 % = baik sekali
80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
< 70 % = kurang
Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80 % ke atas, anda dapat melanjutkan
dengan kegiatan belajar 2. akan tetapi, jika tingkat penguasaan Anda masih di bawah
80%, silahkan Anda mengulangi kembali mempelajari Kegiatan Belajar 1, terutama
bagian-bagian yang belum Anda kuasai.
KB. 2. Materi pendidikan Ilmu-ilmu Sosial
Pada dasarnya, disiplin-disiplin ilmu (sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi,
antropologi dan sebagainya) adalah sumber utama materi pendidikan untuk ilmu-ilmu
sosial. Materi pendidikan adalah apa yang dipelajari siswa untuk mencapai tujuan
pendidikan, yaitu tujuan kurikulum ilmu-ilmu sosial, termasuk dalam pengertian materi
ini adalah substansi dan proses yang berasal dari disiplin-disiplin ilmu-ilmu sosial.
Pendidikan ilmu-ilmu social tidak hanya berhubungan dengan pengajaran materi
ilmu-ilmu sosial, melainkan juga berkaitan dengan dengan materi pendidikan yang
diajarkan dalam rangka mengembangankan manusia seutuhnya, yaitu sesuai dengan
tujuan yang akan dikembangkan dari luar disiplin ilmu dan umumnya materi tersebut
digunakan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan moral siswa. Realita kehidupan di
masyarakat atau pada suatu bangsa, di sebuah negara hendaklah dijadikan materi dasar
dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial yang terus dikembangkan untuk berbagai aspek.
Pada umumnya pengertian substansi ilmu-ilmu sosial terdiri atas pandangan, tema,
topik, fenomana, fakta, peristiwa, prosedur, konsep, generalisasi dan teori, yang secara
tradisional dinamakan kurikulum. Yang dimaksud kurikulum adalah yang berhubungan
dengan pokok-pokok bahasan yang berisikan pandangan, tema, fenomana, fakta, konsep
dam sebagainya.
Menurut pandangan baru yang dimaksud dengan pengertian materi kurikulum,
adalah proses, prosedur, dan langkah-langkah yang harus ditempuh oleh siswa dalam
mempelajari substansi tersebut, dalam arti apa yang dipelajari dan bagaimana cara
mempelajarinya. Secara reknis pembahsan mengenai aspek apa dan bagaimana tersebut
dipisahkan agar pendalaman terhadapa apa yang dijadikan materi bahasan ini dapat
dilakukan. Materi kurikulum yang dikembangkan dari disiplin ilmu harus dipilih
berdasarkan keterakitannya dengan tujuan yang akan dicapai, semakin kuat
keterkaitannya, maka semakin besar kemunkinan materi tersebut akan dipilih sebagai
materi kurikulum. Untuk pendidikan ilmu-ilmu sosial, setiap disiplin ilmu akan
memberikan kontribusi, kontribusi itu tergantung dari pendekatan pengembangan materi
kurikulum yang dipakai. Setiap pendekatan pengembangan disiplin baik mandiri atau
terpisah memerlukan proses pengembangan materi yang berbeda dibandingkan dengan
pendekatan korelatif atau intregratif.
1. Konsep
Konsep adalah suatu abstraksi suatu kelompok benda atau stimuli yang memiliki
persamaan karakteristik. Hasil dari pengabstraksian tersebut kita beri label atau nama
yang merupakan “nama konsep”. Dengan demikian nama konsep tersebut akan
memberikan nama konsep yang satu dengan yang lain. Menurut Bruner, Goodnow dan
Austin (1962). Konsep diartikan sebagai abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari
sekelompok benda atau sifat, kesamaan yang dimaksud adalah adanya unsur-unsur yang
sama baik dalam bentuk konkret maupun dalam bentuk yang abstrak. Keterhubungan
artinya adanya hubungan antara berbagai benda atau sifat baik baik yang sifatnya konkret
maupun yang sifatnya abstrak dan terjadi hanya atas dasar pemikiran abstrak tertentu
pula. Contoh : manusia adalah konsep. Jenis kelamin laki-laki-laki atau wanita juga
konsep. Yang membedakan antara laki-laki dan wanita adalah atribuy-atributnya seperti :
bentuk fisik, suara, alat kelamin dam sebagaimya.
Hamid Hasan dalam Novak dan Gowin (1986 ; 3-4) lebih menyenangi keteraturan
yang dipersepsikan (perceived regularities) untuk menyebutkan abstraksi kesamaan
antara benda atau sifat tersebut.keteraturan yang mereka maksud adalah keteraturan
dalam apa yang dikatakan sama-sama memiliki suatu konsep. Kesamaan yang dimiliki
aspek-aspek kegiatan manusia dalam suatu budaya membentuk apa yang disebut konsep
budaya. Kesamaan yang dikenal dan diidentifikasi manusia adalah kesamaan yang dihasil
kan oleh pemikiran manusia dan bukan kesamaan yang terlihat segera dengan mata.
Suatu konsep memiliki bagian yang dinamakan atribut. Atribut adalah
karakteristik yang dimiliki oleh suatu konsep.gabungan beberapa atribut akan merupakan
suatu pembeda antara satu konsep dengan konsep lainnya. Contoh kecil misalnya meja
memiliki atribut ukuran, bentuk. Ukuran meja bisa kecil atau besar, bentuknya bisa
persegi, oval, persegi panjang, atau persegi empat. Kaki meja ada yang berkaki empat,
kaki dua bahkan berkaki satu. Contoh lain seperti yang dikemukakan oleh Hamid Hasan
danau memiliki atribut ukuran, bentuk tempat, dan isi danau. Berdasarkan atribut itu
danau dibedakan dengan benda lainnya tetapi untuk membedakan danau dengan laut
diperlukan hanya atribut ukuran, bentuk dan tempat/lokasi. Danau memiliki ukuran yang
lebih kecil dibandingkan laut, bentuk yang berbeda serta letak yang berbeda pula. Untuk
membedakan danau dari kolam renang digunakan atribut bentuk, ukuran dan juga letak.
Tetapi untuk membedakan danau, laut dan lautan maka atribut ukuran lebih mengena.
Bentuk tidak dapat digunakan sebagai pembeda antara ketiganya (laut dan lautan tidak
dapat dibedakan dari bentuk fisiknya). Letak tidak dapat juga dijadikan pembeda antara
ketiganya. Walaupun letak hanya satu atribut tapi ia memiliki daya beda yang kuat untuk
ketiganya.
Contoh konsep lainnya yang lebih sederhana dari danau adalah buku. Setiap orang
mengenal buku dan setiap peserta didik akan selalu berhubungan dengan buku. Buku
adalah suatu konsep yang memiliki atribut seperti sampul, halaman, fungsi, dan juga
bentuk. Berdasarkan atribut-atribut ini orang membedakan antara buku dari koran.
Keduanya memiliki halaman tetapi beda dalam karakteristiknya, dan juga berbeda dalam
sampul dan fungsi. Orang juga membedakan buku dari majalah walaupun keduanya
mempunyai sampul dan halamn tetapi fungsinya berbeda. Buku tulis dan buku pelajaran
adalah dua konsep yang berbeda. Keduanya memiliki bentuk fisik, isi dan fungsi yang
berbeda. Oleh karena itu keduanya dibedakan oleh ketiga atribut tersebut.
Jumlah atribut yang dimiliki setiap konsep berbeda. Ada yang memiliki satu
atribut tetapi ada pula yang lima atau lebih. Semakin banyak jumlah atribut berarti
semakin banyak kesamaan yang dituntut di antara benda atau sifat yang menjadi anggota
konsep tersebut. Dengan demikian ia semakin membatasi jumlah benda atau sifat yang
dapat menjadi anggotanya. Hal ini disebabkan karena semakin banyak atribut semakin
sulit untuk memenuhi apa yang dituntut atribut ini.
Semakin banyak atribut yang dimiliki suatu konsep semakin sedikit benda atau
sifat yang menjadi anggotanya. Sebagai contoh konsep danau diatas. Dengan atribut yang
dimilikinya maka laut dan kolam renang tidak dapat menjadi anggota konsep danau.
Tetapi dengan menggunakan hanya atribut bentuk maka danau, laut, lautan dan juga
kolam renang dapat dijadikan anggota. Untuk itu diperlukan label konsep baru yang
dapat menaungi anggota-anggotanya yang banyak itu dan memiliki sifat-sifat yang sama
antara anggotanya.
Contoh lainnya ialah untuk konsep kambing lebih banyak dibandingkan dengan
atribut untuk konsep binatang. Atribut untuk konsep kambing terdiri atas bentuk, bau,
cara hidup, ekor, janggut, kaki, kuku. Atas dasar itu seekor binatang dinamakan kambing
dan yang lainnya tidak. Sedangkan untuk konsep binatang dimana kambing, gajah, ular
dan sebagainya menjadi anggota, yang diperlukan hanyalah atribut bentuk dan cara
hidup.
Hal lain yang dapat dikatakan mengenai konsep dan atributnya ialah
keterhubungan antara atrbut dengan nilai atribut sebagai pembeda antara satu jenis
konsep dengan jenis konsep lainnya. Dalam disiplin ilmu-ilmu sosial dikenal adanya tiga
jenis konsep berdasarkan perbedaan keterhubungan nilai atribut tersebut yakni konsep
konjungtif, konsep disjungtif, dan konsep relasional (Bruner, Goodnow, dan Austin,
1956; De Ceccoo, 1964). Konsep konjungtif adalah konsep yang paling rendah. Dalam
konsep ini benda atau sifat yang menjadi anggota konsep memiliki persamaan yang tinggi
dalam nilai atributnya. Misalnya, kalau orang berbicara tentang buku ilmiah dengan
atribut isi buku, warna sampul, ketebalan buku, serta pembaca buku maka apabila ada
sejumlah buku yang memiliki isi, semuanya mengenai ekonomi makro, warna sampul
semuanya merah, ketebalan buku semuanya berkisar sekitar 300 halaman, serta semua
buku itu ditulis untuk mahasiswa yang baru belajar ilmu ekonomi. Buku tadi yang
dinamakan buku ekonomi mikro membentuk suatu konsep yang konjungtif. Konsep
konjungtif biasanya memiliki jumlah atribut yang banyak.
Konsep disjungtif adalah konsep yang memiliki anggota dengan atribut yang
memiliki nilai beragam. Pengelompokkan benda atau sifat tersbut dalam suatu konsep
karena atributnya memberikan kemungkinan terjadinya perbedaan dalam nilainya.
Konsep ini memang lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan konsep konjungtif
dan oleh karena proses abstraksi terhadap nilai-nilai atribut. Menemukan kebersamaan
diantara ketidakbersamaan memang bukan pekerjaan mudah (pernyataan ini tidak
menyatakan bahwa sesuatu yang ilmiah harus selalu sukar tetapi kesukaran dihubungkan
dengan tingkat abstraksi).
Salah satu contoh konsep disjungtif ialah alat kantor. Atribut untuk konsep ini
tidak mungkin berupa bentuk atau pun fungsi khusus suatu benda yang dinamakan alat
kantor. Fungsi kertas sebagaio alat kantor adalah untuk ditulis sedangkan fungsi mesin tik
sebagai alat kantor adalah untuk mengetik. Fungsi yang berbeda dimiliki pula oleh apa
yang disebut dengan ballpoint, penggaris, marking pen, dan sebagainya. Meskipun
demikian benda-benda ini dikelompokkan sebagai satu konsep yang diberi label alat
kantor karena mereka semuanya mendukung untuk suatu tujuan yaitu kegiatan kantor.
Contoh konsep disjungtif lainnya adalah hewan dengan anggota yang beragam
seperti kuda, ayam, ular, atau renik. Demikian pula dengan konsep manusia walaupun
anggotanya hanya wanita dan pria. Konsep disjungtif dapat dan sudah mungkin dipelajari
oleh siswa SMP karena mereka sudah berada pada tingkat berfikir yang formal. Oleh
karena itu siswa SMP sudah pula dapat mempelajari pengertian pulau, gunung, laut, pasar
dan sebagainya.
Jika konsep yang paling abstrak adalah konsep relasional. Dalam konsep in
kebersamaan antara anggotanya dalam suatu atribut hanyalah berdasarkan kriteria yang
abstrak dan selalu dalam hubungan dengan kriteria tertentu (relasional). Ia tercipta karena
adanya relasi yang diciptakan dalam pengertian yang dikandungnya. Ambil contoh
konsep jarak. Konsep ini dikembangkan berdasarkan kedudukan dua titik. Apabila
kedudukan dua titik itu dihitung secara objektif maka yang diperoleh adalah angka yang
menggambarkan posisi kedua titik tersebut. Beradasarkan hasil pengukuran itu jarak
kedua titik tadi dapat dikatakan jauh atau dekat atau sedang. Pada waktu seseorang
menyebutkan jarak itu sedang maka apa yang ada pada dirinya (dan mungkin disepakati
orang lain) adalah suatu bandingan dengan posisi dua titik dalam hal yang lain.
Konsep dalam disiplin ilmu-ilmu sosial sangat abstrak. Konsep yang digunakan
sedemikian abstrak sehingga kadang-kadang digunakan istilah konstrak (construct) untuk
menyatakan bahwa konsep itu terbentuk sebagai hasil pemikiran abstrak. Untuk konsep
yang demikian proses berfikir diferensi yang lebih tinggi diperlukan karena didalamnya
terlibat berbagai kegiatan kognitif tinggi seperti pengelompokkan benda atau sifat
(analisis), identifikasi persamaan-persamaan (analisis), identifkasi sifat keterhubungan
(analisis), menentukan keutuhan antar komponen untuk satu kelompok baru (sintesis),
dan pemberian label (sintesis, karena ia harus dapat menarik kesimpulan tentang
keutuhan kebersamaan antar komponen). Kenyataan ini menunjukan bahwa pendidikan
ilmu-ilmu sosial harus mengembangkan kemampuan berfikir.
Tabel : Konsep-konsep Penting Dalam Beberapa Disiplin Ilmu-ilmu Sosial
SEJARAH GEOGRAFI EKONOMI
Fakta Sejarah
Waktu
Ruang
Sumber
Penafsiran
Perubahan
Cerita Sejarah
Bukti Sejarah
Peristiwa
Pelaku Sejarah
Hukum Sebab-Akibat
Kronologi
Artefak
Fakta Geografi
Ruang
Waktu
Distribusi
Asosiasi Wilayah
Wilayah
Skala
Interaksi Keruangan
Peta
Lingkungan
Arah
Bentuk Wilayah
Cuaca
Fakta Sosiologi
Keinginan
Sumber
Distribusi
Produksi
Konsumsi
Pasar
Modal
Benda
Jasa
Penghasilan
Pegeluaran
Perkembangan
SOSIOLOGI ANTROPOLOGI ILMU POLITIK
Fakta Sosiologi
Nilai
Norma
Institusi
Kelompok
Kelas
Komunitas
Kelompok Etnis
Inovasi
Sistem
Sosialisasi
Status
Peran
Interaksi
Masyarakat
Modernisasi
Perubahan
Fakta Antropologi
Kebudayaan
Kebutuhan
Struktur
Keluarga
Tradisi
Perubahan
Kelompok Etnis
Inovasi
Sistem
Akulturasi
Enkulturasi
Evolusi
Ras
Kekerabatan
Fakat Ilmu Politik
Kekuasaan
Tuntutan
Struktur
Tekanan
Kebijaksanaan
Kedudukan
Kelompok Penekan
Demokrasi
Pemerintahan
Norma
Isu
Konflik
Tujuan
Sistem
Nilai
Organisasi
Hak
Kewajiban
Warganegara
2. Teori dan Generalisasi
Hamid Hasan, dalam teori menurut Goetz dan LeCompte (1984: 36) adalah
komposisi yang dihasilkan dari pengembangan sejumlah proposisi atau generalisasi ysng
dianggap memiliki keterhubungan secara sistematis. Selain sistematis, keterhubungan
antara proposisi ataupun generalisasi tersebut sudah harus teruji kebenarannya secara
empirik dan dianggap berlaku secara universal.
Melalui teori para ilmuwan dapat menjelaskan fenomena sosial yang ada. Sebagai
contoh, dalam ekonomi dikenal adanya teori tentang harga, permintaan dan penawaran,
dan sebagainya. Teori tentang harga menjelaskan keterhubungan antara pihak pembeli
dan pihak penjual. Dalam teri ini dikemukakan apabila pembeli memiliki interes yang
tinggio terhadap suatu barang dan memiliki daya saing dengan pembeli lain maka harga
yang akan ditetapkan oleh penjual akan tinggi. Sebaliknya, apabila pembeli memiliki
daya beli rendah dan tanpa saingan penjual akan menetapkan harga pada tingkat yang
lebih rendah.
Berdasarkan teori ini maka para ekonom dapat mejelaskan berbagai fenomena
jual beli di pasar, dari kegiatan pasar yang paling sederhana sampai ke kegiatan pasar
yang paling kompleks. Dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial kedudukan teori sebagai
materi kurikulum sangat penting. Secara mendasar dapat dikatakan bahwa tugas sustu
disiplin ilmu adalah mengembangkan teori.
Kebenaran yang menjadi idaman disiplin ilmu tercermin dalam kebenaran dan
kekuatan teori yang dianutnya. Lagi pula, dengan menggunakan teori sebagai materi
kurikulum, ada kemungkinan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan
sedemikian rupa sehingga akan terjadi apa yang dimaksud Bruner dengan “transfer of
training” siswa memiliki kemampuan untuk belajar sesuatu yang lain berdasarkan apa
yang sudah diketahui dan dikuasainya
Goetz dan LeCompte (1984: 36-38) membagi teori atas empat jenis yaitu:
Grand theory
Theoretical models
Formal and middle-range theory
Grand theory (teori besar) adalah sistem yang secara ketat mengkaitkan
preposisi-preposisi dan konsep-konsep yang bastrak sehingga dapat digunakan,
menguraikan, menjelaskan, dan mempredikasi secara komprehensif sejumlah fenomena
besar secara non-probabilitas. Sebagai contoh teori Challenge dan response (Toynbee
(1974), menjelaskan bahwa perkembangan peradaban umat manusia dalam empat masa
yaitu kelahiran peradaban (the geneses of civilizations), pertumbuhan peradaban (the
growths of civilazations), kemunduran peradaban (the breakdowns of civilizations),
dankehancuran peradaban (the disintegrations of civilizations). Toynbee lebih lanjut
menjelaskanbahwa perkembangan kebudayaan itu didasarkanatas teori tantangan dan
jawaban. Jika suatu peradaban mendapat tantangan dan jawaban yang sesuai maka ia
akan berkembang tetapi jika tantangan itu lebih rendah atau terlalu tinggi dari
kemampuan yang telah dimiliki peradaban tersebut maka peradaban tadi akan mengalami
kemunduran untuk kemudian hancur.
Theoretical model (model teori), adalah sebagai keterhubungan yang longgar
(tidak ketat) antara sejumlah asumsi, konsep, dan preposisi yang membentuk pandangan
ilmuwan tentang dunia. Teori ini dipakai sebagai pendekatan dalam melihat,
mengembangkan, dan memecahkan berbagai masalah yang diungkapkan, selain itu teori
ini digunakan bukan saja untuk menjelaskan tetapi secara operasional dipakai dalam
mengembangkan berbagai aktivitas ilmiah
Formal and middle-range (teori formal dan tingkat menengah) yaitu sebagai
preposisi yang berhubungan yang dikembangkan untuk menjelaskan beberapa kelompok
tingkah laku manusia yang abstrak . teori ini terbatas ruang lingkupnya dibandingkan
yang kedua di atas. Generalisasi yang dijadikan dasar untuk mengembangkan teori sudah
bersifat universal tetapi keterikatannya dengan data empirik masih sangat kuat. Tapi
teori-teori ini banyak dikembangkan dalam banyak studi. Para ilmuwan sosial
mengembangkan tentang mobilitas sosial yang memiliki tingkat generalisasi yang luas.
Tetapi bagimanapun universalitas generalisasi yang dijadikan dasar masih terbatas
dibandingkan dengan rekontruksionisme sejarah atau fungsionlisme.
Generalisasi adalah suatu pernyataam yamng dibentuk dari perpaduan atau gabungan dua
konsep atau lebih. Bentuk pernyataan generalisai itu dapat berupa; prinsip, hukum, dalil,
dan pendapat. Konsep generalisai dapat berkembang menjadi suatu teori, yaitu prinsip
umum yang menjelaskan hakekat gejala atau hubungan gejala berupa rumus, aturan,
kaidah dan sebagainya.
Pentingnyasisiwa mempelajari konsep dan generalisasi adalah sebagi berikut:
a. Siswa akan memahami proses sosial yang yang terjadi di masyarakat.
b. Siswatidak mudah melupakan suatu konsep atau generalisasi karena diperoleh suatu
pengertian dan pemahaman yang mendalam
c. Konsep dan generalisasi yang telah difahami akan membuat suatu peristiwa lebih
jelas kaitannya dengan peristiwa yang lainnya.
Bahan pelajaran IPS yang diajarkan di Sekolah Dasar bersumber dari konsep-konsep
dasar dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial; seperti sejarah, geografi, ekonomi,
sosiologi, antropologi, psikologi sosial dan politik. Selain itu ada pula sumber belajar
yang terdapat lingkungan, seperti lingkunga alam (fenomena alam) dan lingkungan
masyarakat yang ada di sekitarnya (fenomena manusia). Semuanya itu akan memberikan
bahan atau materi terhadap pelajaran IPS yaitu berupa fakta, sikap, nilai, apresiasi seni
dan budaya dan ide-ide. Setiap program pembelajaran IPS yang bersumber dari materi di
atas harus berorientasi pada masyarakat, bangsa dan negara kita sendiri.
3. Fakta
Fakta, adalah suatu obyek, peristiwa atau kejadian yang pernah terjadi pada saat ini,
atau suatu jejak-jejak peristiwa yang pernah terjadi atau pernah ada pada masa yang lalu.
Fakta dapat diperoleh manusia melalui penginderaan dan pengamatan. Pengindraan dan
pengamatan setiap manusia itu berbeda-beda. Apabila ada fakta yang sama akan
mengalami makna yang berbeda bagi dua orang manusia atau lebih, karena masingmasing
manusia mempunyai kesan atau persepsi sendiri-sendiri. Dalam disiplin ilmu
fakta memiliki kedudukan yang mendasar, yang menjadi penopang dalam menguji
hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori. Suatu disiplin ilmu
tidak akan berkembang tanpa adanya fakta. Kesimpulan awal dalam proses berpikir
keilmuan adalah untuk menghasilkan fakta. Hamid Hasan dalam Schunke (1988:18)
mengatakan bahwa fakta adalah building block yang digunakan untuk mengembangkan
konsep dan generalisasi. Tanpa fakta tidak akan ada konsep dan tanpa konsep tidak akan
ada generalisasi dan selanjutnya tidak akan ada teori.
Schunche (1988:19) menggambarkan keterhubungan antara fakta, konsep dan
generalisasi sebagai berikut
Gambar.1 : Keterhubungan Generalisasi, Konsep, dan Fakta
Fakta adalah dasar dari pengetahuan yang dikembangkan manusia. Tanpa fakta
disiplin ilmu-ilmu sosial tidak akan memiliki konsep. Sedangkan konsep adalah sesuatu
yang sangat pokok dan menjadi kepedulian utama dalam ilmu-ilmu sosial., karena tanpa
fakta ilmu-ilmu sosial tidak memiliki makna apa-apa. Para ilmuwan hanya dapat
mengumpulkan data atau informasi dari lapangan, sedangkan fakta tidak pernah tersedia
dan tidak dapat di kumpulkan langsung begitu saja dari lapangan. Data atau informasi itu
diolah berdasarkan prosedur tertentu untuk menghasilkan fakta. Jadi fakta dihasilkan
berdasarkan proses pengolahan dan atas pandangan tertentu.
Untuk melakukan suatu penelitian maka yang harus dikumpulkan lebih dulu adalah
data atau informasi dari lapangan. Data yang diperoleh dari sumber di lapangan itu dapat
melalui penglihatan atau pendengaran, setelah terkumpul kamudian diolah hasil olahan
itu akan menghasilkan fakta. Fakta-fakta ini diperlukan untuk menentukan mana yang
masuk atribut, dari atribut-atribut akan membentuk suatu konsep.konsep dirangkai dalam
suatu hipotesis, dikembangkan menjadi generalisasi. Sifat rangkaian atau hubungan
anatarkonsep tersebut dapat berupa hubungan korelatif, kausatif, atau pun konstributif.
Setiap disiplin ilmu akan berbeda fakta. Fakta tentang sejarah teridiri atas, nama pelaku,
tempat peristiwa terjadi, tanggal, bulan dan tahun kejadian. Fakta tentang geografi, nama
daerah, letak daerah, pantai , datar atau daerah pegunungan, bagaimana tingkat kesuburan
tanahnya, dan sebagainya.
4. Materi Proses dalam Pendidikan Ilmu-ilmu sosial
Proses adalah berbagai prosedur, cara kerja, metode kerja tertentu dalam materi
kurikulum pendidikan ilmu-ilmu sosial yang harus dilaksanakan siswa di dalam kelas,
dalam ruang tertentu, atau bahkan mungkin di luar lingkungan sekolah. Proses sangat
Generalisasi Generalisasi
Konsep Konsep Konsep
Fakta Fakta Fakta Fakta Fakta Fakta Fakta
berguna untuk mengembangkan wawasan, keterampilan, dan berbagai kemampuan
berpikir. Keterampilan yang paling utama adalah keterampilan kognitif bukan
keterampilan psikomotor, dalam hal-hal yang berkenaan dengan pemanfaatan koordinasi
kerja motorik keterampilan psikomotor diperlukan, jadi dalam ilmu-ilmu pengetahuan
sosial keterampilan psikomotor bukan menjadi fokus utama. Dengan kemampuan,
wawasan, keterampilan berpikir dan pelaksanaan teknis, apa yang dipelajari siswa bukan
hanya sekedar mengetahui dan memahami saja tapi melatih siswa berkerja berdasarkan
apa yang dikemukakan dalam materi tersebut.
Menurut Hamid Hasan, materi adalah proses dapat digunakan untuk
mengembangkan kemampuan mencari sumber dan merumuskan informasi, mengolah
informasi, mengembangkan baru berdasarkan apa yang sudah dimilikinya; memecahkan
berbagai masalah dan mengambil keputusan.
Atas dasar sifat dan kemampuanny, materi kurikulum ini sangat handal untuk
dimanfaatkan dalam pengembangan kemampuan yang berhubungan dengan tingkat
koginitif tinggi. Selain itu sesuai dengan sifat materi tersebut maka siswa yang belajar
proses harus memiliki pengalaman berbeda dari belajar materi substantif. Dalam hal ini
siswa harus terlibat aktif dalam proses yang dipelajarinya. Ini artinya siswa harus belajar
mengenai cara dan strategi dalam mengumpulkan informasi, sehingga siswa menjadi
terampil dalam melakukannya.
Hamid Hasan, mengemukakan pula bahwa materi untuk proses belajar sebagian
besar dikembangkan dari disiplin ilmu-ilmu sosial. Untuk kemampuan berpikir maka cara
melihat permasalahan, pemilahan masalah menjadi sesuatu yang dapat dikelola
operasionalisasi masalah dari yang abstrak menjadi sesuatu yang konkret, pendekatan
yang digunakan untuk memecahkan masalah teknik yang digunakan dalam pengumpulan
data, cara pengolahan data menjadi fakta, kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan serta
cara mengkomunikasikan hasil berpikir sangat ditentukan oleh warna dan ciri khas suatu
disiplin ilmu. Dalam pendidikan disiplin ilmu yang memakai pendekatan terpisah,
kekhasan setiap disiplin ilmu memang akan lebih menuntut perhatian untuk
dikembangkan pada diri peserta didik dibandingkan kesamaan yang ada di antara
disiplin-disiplin ilmu tersebut.
Materi proses yang dikembangkan meliputi berbagai keterampilan, seperti
keterampilan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan atau bahkan melalui perantaraan
berbagai alat komunikasi yang terasedia dalam masyarakat. Dengan keterampilan
berkomunikasi memudahkan bagi siswa untuk mengemukakan pokok pikirannya atau
pendapat kepada individu lain atau kelompok sosial yang menjadi kawan berkomunikasi.
Kemampuan ini harus mendapat perhatian yang serius sebagai materi proses pendidikan
disiplin ilmu-ilmu sosial. Materi pendidikan untuk proses berkembang dalam tingkat
kesulitan antar jenjang pendidikan. Perkembangan tingkat kesulitan tidak didasarkan atas
meluasnya ruang lingkup materi seperti yang terjadi pada materi substansi.
Perkembangan tingkat kesulitan juga terjadi karena kompleksitas proses yang harus
dilakukan seperti juga kompleksitas kemampuan berpikir abstrak yang harus digunakan
sejalan dengan peningkatan kempleksitas keterampilan yang diperlukan. Dalam hal yang
terakhir ini kompleksitas materi substansi hanya berkenaan dengan kompleksitas
kemampuan berpikir abstrak. Fiksasi prinsip ang melandasi suatu:
o Informasi
o Pengorganisasian informasi
o Kamampuan menarik berbagai kesimpulan
o Menggunakan informasi
o Penyampaian dikiran secara lisan dan tulisan
o Menemukan bentuk-bentuk baru
o Mengenal pokokpikiran lawan bicara
o Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah
o Mengembangkan hipotesis
o Pemecahan masalah
o Bekerja sama dalam kelompok
o Memberi keputusan
5. Sikap, Nilai, dan Moral
Sikap adalah kecenderungan psikologis seseorang terhadap benda, sifat, keadaan,
pekerjaan, pendapat dan sebagainya. Hal ini akan berkembang setelah ia mengetahui
tentang apa itu benda, sifat, pekerjaan, pendapat, dan sebagainya. Hal ini berart , sikap
hanya untuk sesuatu yang sudah dikenal dan bukan sesuatu yang belum pernah
diketahuinya. Jadi sikap seseorang akan terungkapkan dalam pernyataan setuju, senang,
saying atau sebaliknya.
Nilai adalah sesuatu yang menjadi kriteria apakan suatu tindakan, pendapat, atau hasil
kerja itu baik/positif atau jelek/negatif. Nilai pribadi bisa saja tidak sejalan dengan nilai
masyarakat, tetapi bisa sejalan. Setiap orang dalam anggota masyarakat atau sebagai
warga negara bertindak, berpikir, dan menghasilkan sesuatu berdasarkan nilai kejakinan
dan diakui oleh masyarkat dan negara. Umpama nilai agama, tradisi yang berlaku dalam
masyarakat atau negara, dan perjanjian yang ditetapkan baik secara terurat ataupun yang
tersirat
Pertanyaan awal mengapa pendidikan ilmu-ilmu soaial perlu mengembangkan
aspek sikap nilai dan moral ?. Hamid Hasan, mengemukakan bahwa ada 3 jawaban utama
terhadap pertanyaan itu. Pertama, dalam setiap disiplin ilmu ketiga unsur itu ada, tidak
ada disiplin ilmu yang bebas dari ketiga unsur tadi. Konsep bahwa ilmu adalah sesuatu
yang bebas nilai sudah lama ditinggalkan orang (Nagel, 1961, Hasan, 1977, Lincoln dan
Guba, 1985, Trigg, 1991, Schratz, 1993). Tidak ada disiplin ilmu yang bekerja dalam
suasana value and moral free. Alasan Kedua berhubungan dengan kedudukan
pendidikan ilmu-ilmu sosial sebagai wahana untuk menarik perhatian genarasi muda
sehingga mereka mau belajar ilmu-ilmu sosial di SMP harus menarik perhatian siswa
agar mau belajar ilmu-ilmu sosial lebih lanjut. Pendidkan ilmu-ilmu sosial di SMA harus
mampu menarik perhatian siswa agar mau melanjutkan pendidikannya di jenjang yang
lebih tinggi dalam ilmu-ilmu sosial.
Ketiga masih berhubungan dengan kedudukan pendidikan ilmu-ilmu sosial sebagai
wahana pendidikan. Sebagai wahana pendidikan ia memiliki tugas mengembangkan
kepribadian siswa yang utuh dan sesuai dengan tuntutan masyarakat. Tuntutan
masyarakat disini diartikan sebagai nilai dan moral yang berlaku dalam masyarakat. Jadi,
pendidikan ilmu-ilmu sosial memiliki kewajiban untuk mengembangkan nilai dan moral
yang berlaku dalam masyarakat menjadi bagian dari kepribadian individu siswa. Melalui
cara yang demikian maka pendidikan ilmu-ilmu sosial memberikan kontribusi tidak
hanya untuk kepentingan dirinya (keilmuan) tetapi juga untuk kepentingan masyarakat
yang telah mempercayakan tugas itu melalui rumusan tujuan pendidikan nasional,
undang-undang, maupun keputusan-keputusan tentang pendidikan yang lebih
operasional. Pengembangan sikap, nilai, dan moral sebagai tujuan dari pendidikan ilmuilmu
sosial dapat dirumuskan sesuatu dengan materi nilai dan moral yang ada dalam
disiplin ilmu maupun dalam masyarakat. Sebagai contoh : kebenaran, sikap kritis, hormat
terhadap logika, penghargaan terhadap fakta, penghargaan terhadap pendapat orang lain
adalah suatu nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam ilmu. Kebiasaan belajar adalah nilai
yang akan dikembangkan dalam masyarakat; seperti juga halnya dengan kepatuhan
terhadap aturan, kepatuhan terhadap orang tua, penghargaan terhadap prestasi, rasa
kebangsaan, cinta tanah air, dan sebagainya.
Moral terdapat pula dalam ilmu dan masyarakat. Dalam ilmu, kejujuran adalah
sesuatu yang dijunjung sama tingginya dengan penyebarluasan hasil penemuan. Seorang
ilmuwan yang tidak jujur melaksanakan penelitian akan mendapat hukuman dari
masyarakat ilmuwan. Hasil-hasil karyanya tidak akan dipercaya lagi dan kariernya
sebagai ilmuwan dapat dikatakan berhenti. Moral dalam masyarakat dan bangsa dapat
dikatakan sangat bervariasi; setiap masyarakat dan bangsa memiliki moral tertentu.
Diantara moral yang dianut suatu kelompok masyarakat atau bangsa mungkin saja ada
persamaan-persamaan dan dengan demikian bersifat universal. Pada saat sekarang secar
universal diakui bahwa pelecehan ras dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermoral.
Sebagai seorang guru, apakah itu guru IPS atau guru bidang studi lainnya mempunyai
tanggung jawab moral terhadap anak didiknya. Karena ini adalah tugas negara yang
dibebankan kepada ibu bapak guru untuk memanusiakan manusia sesuai dengan tujuan
pendidikan nasional. Guru bukan saja bertugas sebagai pengajar yang mentransfer ilmu
pengetahuan kepada anak didik tetapi juga sebagai pendidik, yang artinya sangat luas
dibanding dengan sebagai pengajar.
Sikap, nilai, dan moral yang dapat dikembangkan pendidikan ilmu-ilmu sosial
adalah :
o Pengetahuan dan pemahaman tentang nilai dan moral yang berlaku dalam masyarakat
seperti religiusitas, penghormatan terhadap keteladanan, prestasi, sifat kepedulian
sosial, menghormati orang tua, kepedulian terhadap tetangga, dan sebagainya.
o Toleransi
o Kerjasama/gotong royong
o Hak azasi manusia
Hamid Hasan, mengemukakan bahwa materi untuk pendidikan ilmu-ilmu sosial
yang menjadi wahana pengembangan sikap, nilai, dan moral dapat dikembangkan dari
materi disiplin ilmu-ilmu itu sendiri dan dapat pula dikembangkanberdasarkan nilai,
sikap dan moral yang berlaku dalam masyarakat. Seperti telah dikemukankan dalam
bahasan mengenai konsep di dalam sub-sub ini naka, nilai, norma, dan moral sebenarnya
adalah konsep-konsep utama dalam sosiologi dan antropologi. Oleh karena itu
pemahaman mengenai nilai, norma dan moral tertentu dapat dilakukan melalui kajian
yang dari sudut pandang keilmuan. Meskipun demikian, sebagaimana telah dikemukakan
sebelumnya bahwa suatu konsep memiliki materi dan materi itu dikembangkan dari
kenyataan hidup dalam masyarakat. Untuk nilai, norma, dan moral yang ditentukan
keberlakuannya dalam masyarakat. Masyarakatlah yang menentukan apakah suatu isi
suatu nilai, norma, dan moral dapat dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari ataukah
tidak ada kesesuaian dengan apa yang berlaku dalam masyarakat. Jika ia tidak sesuai
dengan apa yang berlaku dalam masyarakat maka apakah ketidaksesuaian itu dianggap
sebagai pengembangan isi nilai, norma, atau moral yang berlaku ataukah sebagai sesuatu
yang membahayakan.
Jika dianggap sebagai sesuatu yang dapat mengembangkan yang sudah ada, maka
kemungkinan ia diterima masyarakat lebih besar dibandingkan, sebaliknya. Oleh karena
itu, sikap yang akan dekembangkan terutama adalah sikap yang positif terhadap disiplin
ilmu, nilai, norma, dan moral yang berlaku dalam masyarakat. Sikap yang positif
terhadap didiplin ilmu merupakan tujuan yang sepantasnya dikembangkan oleh setiap
pengajar disiplim ilmu-ilmu sosial. Melalui pengembangan yang demikian guru berupaya
agar siswa tertarik dan mau belajar terus tentang disiplin ilmu yang bersangkutan. Seperti
telah dikemukakan terdahulu materi untuk pengembangan sikap yang demikian
sepenuhnya dikembangkan dari materi disiplin ilmu itu sendiri serta sikap guru dalam
mengembangkan proses belajar.
Nilai dan moral menurut Hamid Hasan adalah nilai dan moral yang diterima oleh
masyarakat, etnis, dan bangsa tertentu. Dalam hal ini pendidikan ilmu-ilmu sosial harus
berhati-hati dan sampai mengulang secara tidak perlu materi pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan. Materi yang berasal dari Pendidikan seperti nilai 36 butir dari
Ekaprasetya Pancakarsa tidak dapat dijadikan materi pendidikan ilmu-ilmu sosial begitu
saja. Secara resmi materi tersebut adalah materi pendidikan Pancasila. Meskipun
demikian untuk kepentingan pendidikan berbagai materi tersebut dapat diambil untuk
pendidikan ilmu-ilmu sosial.
Untuk memilih materi apa yang dapat dikembangkan pendidikan ilmu-ilmu sosial
maka tujuan pendidikan ilmu-Ilmu sosial dan materi disiplin ilmu sosial dapat digunakan
sebagai pegangan. Misalnya materi sosiologi dan antropologi yang berhubungan dengan
masyarakat dan kebudayaan bangsa Indonesia. Dalam kebudayaan dikenal adanya
berbagi etnis yang berbeda satu dengan yang lainnya dan oleh karena itu maka materi
yang sifatnya demikian memungkinkan pembahasan sikap hormat menghormati antara
etnis tersebut. Demikian pula pembahasan mengenai nilai yang harus dikembangkan
berhubungan dengan adanya berbagai etnis tersebut di mana setiap kelompok etnis
memiliki nilai sosial dan budaya yang mungkin berbeda satu sama lainnya.
Contoh lain misalnya yang berhubungan dengan rasa cinta tanah air. Materi yang
sesuai untuk mengembangkan sikap dan bahkan menjadikannya sebagai nilai hidup
seorang peserta didik untuk hal demikian adalah materi disiplin sejarah. Untuk
mengembangkan sikap, dan nilai cinta tanah air guru dapat pula dengan melalui kajian
mengenai pergerakan kebangsaan yang dialami bangsa Indonesia.
Cara pengembangan materi disiplin ilmu-ilmu sosial yang berhubungan untuk
mencapai tujuan dalam dimensi ini tentu harus dibedakan dari cara pengembangan materi
yang dilakuakan dalam pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Dalam pendidikan
ilmu-ilmu sosial, materi tersebut harus dikembangkan berdasatkan pemikiran logis dan
tidak dogmatis. Dari pemikiran logis itu siswa harus dapat diyakinkan akan pentingnya
sikap, nilai, atau moral yang demikian, jadi bukan atas dasar pertimbangan keputusan
atau produk hukum resmi yang mengharuskan pengembangan materi yang demikian.
Memang tugas pengembangan materi dengan dasar landasan pemikiran yang logis dan
akademis untuk diarahkan ke sesuatu yang akan dikembangkan sebagai milik seseorang
secara afektual memerlukan upaya yang lebih keras tetapi harus dilaksanakan.
Dalam kenyataan kurikulum materi yang bersifat sikap, nilai, dan moral dapat
dikatakan tidak tercantum secara tersurat. Misalnya jika dilihat kurikulum SMA untuk
pelajaran Antropologi maka tercamtum pokok bahasan bentuk-bentuk kebudayaan.
Dibagian uraian terbaca bahwa pokok bahasan tersebut meliputi bangunan, seni rupa,
tulisan, seni sastra, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Materi ini dikembangkan dari
disiplin ilmu tersebut dan karena itu masalah sikap, nilai, dan moral tidaklah tercantum
masalah sikap, nilai dan moral tidaklah tercantum secara tersurat.
Dengan demikian guru pendidikan ilmu-ilmu sosial harus mampu mengidentifikasi
(menemutunjukkan) sikap, nilai, dan bahkan moral yang dapat dikembangkan.. Umpanya
dari materi pokok bahasan bentuk-bentuk kebudayaan ini dapat dikembangkan sikap
nenyenangi dan memberikan penghargaan terhadap apa yang sudah dihasilkan
masyarakat, individu atau anggota masyarakat tertentu dalam berbagai bentuk bangunan
yang ada, seni rupa ang sudah dihasilkan, teknologi yang telah dikembangkan, atau pun
ilmu pengetahuan yang sudah mendarah daging dengan pokok bahasan antropologi.
Dalam potensi sumber daya alam Indonesia untuk pendidikan geografi maka dapat
diidentifikasi/ditemutunjukkan materi untuk sikap terhadap pelestarian alam. Alam selain
berguna dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup manusia, juga harus dipelihara
supaya tidak ruksak artinya harus ada keseimbangan. Contoh yang sering kita dengar
baik di media massa atau media elektronik, seringnya banjir diberbagai tempat atau
daerah yang dampaknya adalah merugikan manusia itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh
ulah manusia yang kurang bertanggung jawab. harus diakui bahwa pendidiklah yang
bertanggung jawab dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial harus bekerja lebih keras sebab
ini adalah suatu tantangan professional.
Namun tidak setiap pokok bahasan dapat dikembangkan materi untuk sikap, nilai
atau moral. Mungkin dari suatu dari suatu pokok bahasan tidak ada atau tidak cukup kuat
dijadikan dasar untuk mengembangkan sikap, nilai, moral atau salah satu dari ketiganya.
Sebagai contoh, misalnya pokok bahasan mengenai tujuan, sasaran, metode ekonomi.
Dari pokok bahasan seperti ini tidak perlu dikembangkan adanya suatu sikap, nilai, atau
moral. Jadi, terlepas dari kenyataan bahwa sebagian terbesar pokok bahasan pendidikan
ilmu-ilmu sosial berhubungan dengan masyarakat terdapat pula sejumlah pokok bahasan
yang tidak punya kaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Pokok bahasan yang
demikian tidak perlu dipaksakan untuk menghasilkan materi yang ada hubungannya
dengan sikap, nilai, dan moral.
Materi yang bersifat sikap, nilai, dan moral memberikan kesempatan kepada guru
pendidikan ilmu-ilmu sosial untuk bekerja secara professional. Sebagai pengembang
kurikulum di sekolah atau untuk kelas, ia harus berfikir keras untuk mengkaji pokok
bahasan dalam kurikulum. Kemampuan untuk menemukan sikap, nilai, dan moral dari
pokok bahasan yang tersedia dalam GBPP suatu kurikulum memang harus mendapat
binaan yang mendasar. Hanya dengan bekal yang demikian guru dapat melakukan
tugasnya dengan baik.
Sekuensi Materi Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial
Sekuensi materi adalah tata urutan antara suatu materi dengan materi lain; dalam
bahasa GBPP tata urutan antara pokok bahasan. Dalam konteks kurikulum yang lebih
luas sekuensi dapat berkenaan dengan tata urutan antara satu mata pelajaran lainnya.
Konteks yang terakhir ini bukanlah konteks dimana semua guru terlibat dan bahkan dapat
dikatakan tidak terlibat sama sekali dan oleh karena itu tidak dibicarakan di sini.
Konteks pertama menyangkut pekerjaan guru sehari-hari walaupun GBPP sudah
mencantumkan urutan tersebut. Sebagai pengembang kurikulum guru diberi kebebasan
oleh kurikulum nasional untuk mengatur kemabali tata urutan yang berlaku: asalkan
masih dalam satu semester atau dalam satu catur wulan yang sama. Artinya guru masih
memiliki tanggungjawab untuk menentukan apakah sekuensi yang telah ditetapkan
pengembang kurikulum tingkat pusat sudah dianggapnya memadai ataukah masih harus
disesuaikan dengan sifat dan kondisi setempat.
Secara sederhana tata urutan itu dapat dikelompokkan atas dua pendekatan yang
besar. Pertama, pendekatan logis yang berasal dari disiplin ilmu. Pendekatan kedua,
adalah pedagogis. Kedua pendekatan itu tidak harus bertentangan satu dengan lainnya
tetapi keduanya dikembangkan dari tradisi dan landasan pemikiran yang berbeda.
Pendekatan logis adalah pendekatan beradasarkan pemikiran logis suatu displin
ilmu. Oleh karena itu tata aturan materi dilakukan berdasarkan urutan itu. Dalam sejarah
misalnya urutan logis adalah urutan kronologis progresif, artinya materi pendidikan
sejarah disusun berdasarkan urutan waktu dari masa yang paling tua ke masa yang paling
muda. Oleh karena itu pendidikan sejarah dimulai dengan membahas pra-sejarah, zaman
kuno atau zaman tua, zaman madya dan seterusnya sampai ke zaman yang paling muda.
Tata urutan materi displin ilmu lainnya demikian pula. Walaupun orang banyak
menyatakan bahwa tata urutan logis materi pendidikan ilmu-ilmu sosial tidak sekuat tata
urutan logis dalam pendidikan ilmu-ilmu alamiah tetapi tata urutan logis pendidikan
ilmu-ilmu sosial tetap harus diperhatikan. Apabila kemampuan berfikir yang akan
dikembangkan pendidikan ilmu-ilmu sosial keterhubungan antara satu materi dengan
materi lainnya menjadi sangat penting dan tampak tidak dapat diabaikan. Kesan yang
disampaikan umum mengenai pendidikan ilmu-ilmu sosial itu terjadi karena kepedulian
pendidikan ilmu-ilmu sosial yang tinggi pada pengembangan aspek ingatan.
Contoh, berikut ini akan menjelaskan apa yang dimaksudkan dalam alinea diatas.
Misalkan pembahasan mengenai pemerintahan yang berdaulat. Adalah sesuatu yang
sukar atau dapat dikatakan tidak mungkin seseorang dapat mengembangkan pemahaman
dan kemampuan intelektual tinggi lainnya dari materi pemerintahan yang berdaulat
apabila ia tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai pengertian negara serta
hukum internasional yang mengatur keberadaan suatu negara. Seseorang dapat saja
belajar sendiri mengenai hal-hal yang dikemukakan terakhir untuk kemudian
mengembangkan pengertiannya mengenai pemerintahan yang berdaulat tetapi hal itu
menunjukkan bahwa persyaratan pemahaman terhadap pengertian negara dan hukum
internasional tentang negara diperlukan. Artinya sekuensi materi yang dipelajari
diperlukan.
Untuk mengembangkan sekuensi antar pokok bahasan yang sudah ditetapkan
dalam GBPP, guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman disiplin ilmu yang
diajarkan dan materi pokok bahasan dengan pokok bahasan lainnya. Tanpa pengetahuan
dan kemampuan yang demikian maka ia akan mengalami banyak kesulitan atau bahkan
tidak mungkin sama sekali untuk melakukan tata urutan selain menerima begitu saja apa
yang sudah ditetapkan dalam GBPP. Dengan demikian ia kurang dapat melaksanakan
fungsi profesionalnya sebagai pengembang kurikulum dan hanya menjadi mesin
pelaksana kurikulum. Apabila ia menerima sekuensi dalam GBPP berdasarkan keyakinan
profesionalnya bahwa apa yang sudah diterapkan dalam GBPP itu adalah apa yang
menjadi keyakinannya maka ia tetap melakukan profesinya dengan baik; ia tetap menjadi
pengembang kurikulum yang profesionaldan tidak menjadi mesin pelaksana kurikulum.
Sekuensi logis dikembangkan berdasarkan keterhubungan logis antara satu pokok
bahasan dengan pokok bahasan lainnya. Hubungan logis yang dimaksudkan adalah
hubungan mana yang dianggap harus dikuasai lebih dahulu untuk dapat menguasai materi
berikutnya secara lebih baik. Persoalan ini seringkali tidak mudah karena tidak jarang
bahwa dalam diri pribadi guru terjadi perbedaan mengenai posisi satu pokok bahasan
dibandingkan pokok bahsan lain. Hal itu terjadi sebagai akibat keterhubungan yang
sangat erat antara materi satu pokok bahasan dengan lainnya. Misalnya akan agak sulit
untuk menentukan mana yang lebih dulu harus dibicarakan antara uang dan harga. GBPP
mencantumkan bahwa harga dibicarakan lebih dulu. Seorang guru dapat saja berdiskusi
dengan teman sejawat mengenai mana yang harus dibahas lebih dulu, dan teman sejawat
mungkin ada yang berpendapat bahwa uang harus dibahas dulu sedangkan yang lain
harga. Dalam hal semacam ini maka guru dapat berpegang pada pertimbangan mengenai
apa yang sudah /akan dipelajari sebelumnya. Jika, pokok bahasan sebelumnya lebih dekat
dengan harga maka harga menjadi lebih dulu dari uang.
Adakalanya sekuensi itu dengan mudah dapat dilakukan karena jelasnya
perbedaan antara yang satu dengan lainnya dan keterhubungan yang jelas
menggambarkan satu harus lebih dulu diketahui. Misalnya antara penduduk dengan
warganegara maka penduduk lebih jelas untuk dibicarakan lebih dahulu. Dalam hal yang
demikian guru tidak perlu mengerahkan seluruh kemampuannya tetapi ia tetap harus
menggunakan pertimbangan profesionalnya betapa pun rendah kadarnya.
Sekuensi yang berdasarkan kependidikan lebih ditekankan pada pertimbangan
mengenai siswa dan bukan tata urutan yang ada dari disiplin ilmu. Dalam hal ini kriteria
seperti kemudahan, familiarisasi dengan pokok bahasan, serta tingkat abstrak suatu
materi pokok bahasan dijadikan dasar pertimbangan. Misalnya, untuk membahas pokok
bahasan penduduk dan warga negara. Penduduk bagi siswa lebih jelas dan dekat dengan
dirinya sedangkan warganegara adalah suatu konsep ang lebih abstrak. Seseorang yang
menjadi penduduk suatu daerah atau negara mudah dikenal dari kehadirannya tetapi tidak
demikian halnya dengan warganegara. Seorang warganegara Indonesia mungkin lebih
banyak tinggal di luar negeri dibandingkan di Indonesia.
Berdasarkan ketiga kriteria diatas maka sekuensi pedagogik sering dimulai dari
lingkungan terdekat dengan siswa dan berkembang ke lingkungan terjauh. Dalam
pendidikan ilmu-ilmu sosial model yang demikian dikenal dengan nama expanding
community approach (pendekatan komunitas yang meluas). Dalam bentuk aslinya, Paul
Hanna (1972) tokoh yang mengembangkan model ini, menggunakan pendekatan
komunitas yang meluas untuk pendidikan yang bukan bersifat pendidikan disiplin ilmu.
Paul Hanna melaporkan mengenai model ini pada tahun 1963 dalam jurnal Social
Education dan model tersebut digunakan untuk pendidikan sosial yang mempersiapkan
siswa terutama untuk berkiprah dalam masyarakat sebagai anggota biasa suatu
masyarakat dan bukan sebagai calon untuk dididik sebagai ilmuwan atau tenaga kerja
tingkat perguruan tinggi.
Model Hanna tersebut adalah seperti yang digambarkan dalam gambar berikut ini.
Dalam gambar tersebut jelas diperlihatkan bahwa siswa (the child) adalah pusat dari
semua proses belajar dan bukan disiplin ilmu. Pembahasan mengenai materi pendidikan
atas pusat ini. Tema-tema yang dianggap penting oleh Hanna (1972) adalah tema yang
dikembangkan dari kehidupan masyarakat dan bukan dari disiplin ilmu walaupun ada
persamaan dengan konsep-konsep dalam disiplin ilmu seperti transportasi dan konversi.
Keseluruhannya ada sembilan tema yang dirumuskan dalam bentuk aktivitas dan
tidak menggunakan kata benda yang umum. Kesembilan tema itu adalah proses
pendidikan (educating), penyediaan rekreasi (providing recreation), perlindungan dan
pengkonversian (protecting and preserving), pengorganisasian dan pemerintahan
(organizing and governing), menyatakan keindahan dan semangat keagamaan
(expressing aesthetic and religius impulses), penciptaan alat-alat dan teknik-teknik baru
(creating new tools and techniques), pentransportasian (transporting), berkomunikasi
(communication), memproduksi, penukaran, dan pengkonsumsian (producing,
exchanging, and consuming).
Gambar.2 : Model Perluasan Komunitas Hanna
Siswa belajar mengenai kesembilan tema itu dari lingkungan terdekat dengan
dirinya kemudian berkembang ke komunitas keluarga (family community); sekolah
(school community), tetangga (neighbourhood community); lingkungan/desa, kecamatan,
kotamadya/kabupaten (local, country, and metropolitan community); propinsi (state);
wilayah propinsi (region of states community = dapat disebut dengan pulau ataupun
wilayah waktu untuk situasi di Indonesia); nasional (national community); dan dunia
(world community).
Untuk memanfaatkan model Hanna ini bagi pendidikan ilmu-ilmu social beberapa
perlu dilakukan, terutama dengan menghilangkan salah satu komponen sekuensinya.
Unsur sekuensi Hanna yang tidak sesuai dengan karakteristik pendidikan disiplin ilmu
adalah tema kehidupan yang digunakannya. Oleh karena itu perbaikan terhadap model
Hanna dengan menghilangkan kesembilan bidang kehidupan tersebut. Sebagai gantinya,
digunakan konsep atau topik yang dikembangkan dari disiplin ilmu.
Perbaikan terhadap model tersebut menyebabkan keterhubungan antar kedua
komponen model tidak dipertahankan. Dalam model Hanna proteksi dan konvensi
dikembangkan sebagai materi bahasan sejak dari lingkungan rumah sampai ke
lingkuangan dunia. Dalam perbaikan keadaan sudah tidak demikian. Pokok bahasan yang
ada tidak lagi dibahas dalam keseluruhan konteks lingkungan yang berkembang. Ini
terjadi karena tidak semua konsep keilmuan yang dipilih sebagai pokok bahasan
mengandung pembahasan yang dapat dilakukan dalam berbagai jenjang lingkungan.
Perbaikan model Hanna terlihat misalnya dalam sekuensi materi kurikulum IPS di
SMP 1984. Dalam kurikulum tersebut pokok bahasan kehidupan social, ekonomi dan
budaya tidak dikembangkan dari lingkungan terdekat dengan siswa hingga ke lingkungan
dunia. Ketiga pokok bahasan tersebut hanya dibahas dalam konteks wilayah Indonesia.
Demikian pula dengan pokok bahasan penduduk tidak dimulai dari apa yang ada di
sekitar siswa walaupun pokok bahasan ini diberikan di awal masa pendidikan SMP.
Dalam kurikulum IPS SMP yang akan datang dilakukan perbaikan lagi. Unsur
perkembangan lingkungan semakin mendapat perhatian tetapi unsur dimensi kehidupan
Hanna tetap tidak digunakan. Hal ini dapat dimengerti mengingat adanya perbedaan
tujuan yang mendasar antara apa yang ingin dicapai Hanna melalui social studies dengan
apa yang ingin dicapai oleh IPS SMP. Hanna mengembangkan modelnya dengan tujuan
yang bukan diarahkan pada pendidikan disiplin ilmu sedangkan pendidikan IPS SMP di
Indonesia di arahkan sebagai pendidikan disiplin ilmu.
Perbaikan terhadap model tersebut menyeabkan keterhubungan antar kedua
komponen model tidak lagi dipertahankan. Dalam model hanna proteksi dan kovensi
dikembangkan sebagai materi bahasan sejak dari lingkungan rumah sampai ke
lingkungan dunia. Dalam perbaikan keadaan sudah tidak demikian. Pokok bahasan yang
ada tidak lagi dibahasdalam keseluruhan konteks leingkungan yang berkembang. Ini
terjadi karena tidak semua konsep keilmuan dipilih sebagai pokok bahasan mengadung
pembahasan yang dapatdilakukan dalam berbagai jenjang lingkungan. Misalnya dalam
sekuensi kurikulum IPS di SMP tahun 1984. dalam kurikulum tersebut pokok bahasan
kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya tidak dikembangkan dari lingkungan terdekat
dengan siswa hingga ke lingkungan dunia. Ketiga pokok bahasan tersebut hanya dibahas
dalam konteks Indonesia
Pengorganisasian Materi
Hamid Hasan, mengemukakan bahwa pengorganisasian materi membahas
mengenai bagaimana materi yang ada diatur sehingga ia merupakan suatu kesatuan
wilayah yang utuh. Pengorganisasian materi amat penting dalam pendidikan ilmu-ilmu
sosial. Ia demikian pentingnya sehingga dalam pandangan tertentu pengorganisasian
materi ini bahkan dikenal sebagai jenis kurikulum atau juga ada yang menyebutkan jenis
pendidikan ilmu-ilmu sosial. Oleh karena itu orang sering mengatakan bahwa pendidikan
ilmu-ilmu sosial yang ini adalah yang terpisah (separated), korelasi (correlated),
antardisiplin (interdisciplinary), dan fusi (integrated). Keempat jenis pengorganisasian
pendidikan ilmu-ilmu sosial yang sepenuhnya termasuk kedalam pendidikan disiplin
ilmu. Keempatnya akan dibahas dalam bagian bab ini.
1. Pengorganisasian Terpisah
Bentuk pengorganisasian terpisah adalah bentuk pengorganisasian materi
kurikulum tertua. Dalam pengorganisasian kurikulum yang demikian, setiap disiplin
ilmu-ilmu sosial diajarkan secara terpisah berdasarkan ciri dan karakteristiknya masingmasing.
Dalam organisasi ini sejarah diajarkan terlepas dari geografi, ekonomi, sosiologi,
antropologi atau politik. Materi yang harus dipelajari siswa sepenuhnya dikembangkan
dari masing-masing disiplin ilmu yang bersangkutan. Dulu belajar tentang sejarah ada
sejarah dunia, ada sejarah Indonesia.
Bentuk pengorganisasian kurikulum yang demikian memiliki keuntungan dan
kelemahan. Keuntungannya ialah siswa belajar sepenuhnya terpusat pada satu disiplin
ilmu. Ketika ia belajar sejarah seluruh perhatiannya terpusatkan pada sejarah saja. Ketika
ia belajar geografi seluruh perhatinnya terpusat pada geografi; demikian pula seterusnya
pada waktu siswa belajar disiplin ilmu lainnya. Ia memiliki seluruh waktu hanya untuk
memusatkan pemikiran pada masalah yang ada dalam disiplin ilmu itu. Kompleksitas
permasalahan dan cara pemecahan masalah sepenuhnya dikaji dari pemikiran keilmuan
disiplin yang bersangkutan.
Pengembangan tujuan dan materi pelajaran pun menjadi lebih mudah bagi guru
pendidikan ilmu-ilmu sosial. Seseorang yang mendalami sejarah hanya akan memikirkan
tujuan dan materi sejarah bagi kelas yang menjadi tanggungjawabnya. Guru geografi
hanya akan berfikir untuk mengembangkan tujuan dan materi yang sepenuhnya diambil
dari geografi; dan demikian pula dengan pendidikan disiplin ilmu sosial lainnya. Apa
yang terjadi sebelum dan sesudahnya tidak perlu diperhatikan.
Kelemahan dari organisasi kurikulum yang demikian ialah ia menjadikan ilmuilmu
sosial sebagai suatu pendidikan yang hanya memikirkan kepentingan disiplin ilmu.
Faktor anak didik dan kenyataan kehidupan riil tidak termasuk pertimbangan. Dalam
pendekatan yang demikian, siswa mungkin belajar sesuatu yang sangat berjauhan antara
pokok bahasan suatu pelajaran dengan pelajaran lainnya pada hari yang sama dan hanya
berbeda dalam beberapa menit saja. Lagi pula, siswa tidak diajak untuk melihat masalah
sosial yang menjadi objek kajian disiplin ilmu-ilmu sosial sebagai suatu kesatuan utuh.
Siswa diharuskan melihat fenomena sosial sebagai suatu yang sepenuhnya sosiologis,
antropologis, geografis, ekonomis, historis, atau lainnya. Sejak awal siswa sudah diajak
berfikir terpisah untuk fenomena sosial yang sebenarnya satu. Akibatnya, fenomena itu
dapat dikaji dengan baik secara akademik tetapi tidak cukup kuat sebagai dasar untuk
memecahkan masalah sosial.
Kelemahan yang dikemukakan diatas mungkin tidak begitu terlihat apabila
pandangan pendidikan ilmu-ilmu sosial didasarkan atas pandangan esensialisme.
Kemampuan intelektual melalui pendidikan disiplin ilmu yang ketat memang memang
menjadi pola pikir pandangan esensialisme. Kenyataan itu akan lain apabila pandangan
yang dianut bahwa siswa juga diminta untuk mengembangkan kemampuan untuk dapat
menyelesaikan masalah-masalah sosial yang ada di sekitar dirinya. Dalam pandangan
pendidikan di Indonesia, sesuai dengan apa yang tersirat dalam GBHN dan Undangundang
no 2 tahun 1989 tentang system Pendidikan Nasional maka pendidikan adalah
upaya untuk mewariskan budaya, mengembangkan kemampuan intelektual serta untuk
mendidik siswa agar mampu berpartisipasi dalam berbagai aktivitas dan permasalahan
sosial. Dengan demikian pandangan pendidikan yang dianut adalah elektik dari perennial,
esensial, dan rekonstruksi sosial.
Dalam pandangan yang demikian maka pendidikan ilmu-ilmu sosial tidak dapat
melepaskan diri hanya dengan memperhatikan kepentingan disiplin ilmu semata.
Kepentingan anak didik serta masyarakat harus diperhatikan pula. Konsekuensi
pandangan yang demikian adalah pendidikan disiplin ilmu-ilmu sosial di jejang
pendidikan SMP maupun SMA harus memperhatikan kepentingan belajar siswa dan
masyarakat. Tampaknya, pendidikan disiplin ilmu yang terpisah hanya sesuai untuk
jenjang pendidikan perguruan tinggi.
2. Pengorganisasian Korelatif
Pengorganisasian materi berikutnya adalah pengorganisasian korelatif.
Pengorganisasian ini tidak menghilangkan ciri dari disiplin ilmu yang bersangkutan.
Pendidikan sejarah sebagai suatu keutuhan tetap saja dipertahankan; seperti halnya
dengan pendidikan geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi dan tata negara.
Pengorganisasian ini hanya mencoba mencari keterkaitan pembahasan antara satu pokok
bahasan dengan pokok bahasan lainnya.
Melalui keterkaitan itu siswa belajar mengenai satu pokok bahasan dari suatu
disiplin ilmu berhubungan dengan pokok bahasan lain dari disiplin ilmu lainnya. Pokok
bahasan yang dibicarakan pada hari yang sama memang berbeda tetapi mereka
memperlihatkan hubungan yang jelas. Dalam keadaan yang demikian prinsip keterkaitan
yang dikehendakidalam belajar yang dikemukakan Piaget (Sigel dan Cocking, 1977) dan
Ausuble (Ausuble dan Robinson, 1977) terpenuhi dengan baik.
Dalam pengorganisasian yang bersifat korelatif, pengembangan materi setiap
disiplin ilmu lebih sulit. Tim yang mengembangkan materi kurikulum maupun materi
pengajaran harus kompak: mereka harus membicarakan apa yang telah mereka
kembangkan dan bagaimana keterhubungan antara satu pokok bahasan dengan pokok
bahasan lainnya. Sebagai contoh misalkan sejarah membicarakan peristiwa
Rengasdengklok maka geografis membahas mengenaia propinsi Jawa Barat. Pada waktu
yang sama antropologi membahas mengenai nilai yang berlaku dalam hubungan antara
orang yang dianggap tua dengan yang dianggap muda. Pokok bahasan antropologi ini
akan membantu siswa dapat memahami bagaimana hubungan antara tokoh Soekarno-
Hatta yang dianggap tua dengan golongan muda pada saat menjelang proklamasi
kemerdekaan.
Dalam pengorganisasian yang bersifat korelatif dalam sub-bab C yang berjudul
sekuensi materi. Dalam bagian ini akan dibahas dua pendekatan utama dalam sekuensi
materi pendidikan ilmu-ilmu sosial yaitu pendekatan logis keilmuan dan pendekatan
pedagogis. Perbedaan dalam bandingan keuntungan dan kerugian masing-masing
pendekatan dibahas dalam sub-bab C ini.
Sub-bab D akan membahas mengenai organisasi materi dan pandangan disiplin
ilmu. Dalam bagian ini akan dibahas kembali organisasi terpisah, korelatif, integrative
yang sudah dikemukakan sepintas dalam ada dua pendekatan yang digunakan. Pertama
adalah pendekatan berbagai antardisiplin/interdisciplinary dan kedua adalah pendekatan
berbagai disiplin/multidisciplinary. Kedua pendekatan ini menggunakan lebih dari satu
disiplin ilmu tetapi dalam pendekatan antardisiplin ada satu disiplin ilmu yang dijadikan
sumber materi utama sedangkan disiplin ilmu lainnya diajdikan sebagai sumber untuk
menambah kedalaman atau keluaasan materi tadi.
Misalkan dari geografi dikembangkan materi kajian utama mengenai
kependudukan (lihat gambar) sedangkan materi disiplin ilmu sosial lainnya sebagai
materi perluasan dan pendalaman, misalnya dari sejarah dibicarakan perkembangan
penduduk dari masa sebelumnya; dari sosiolog dibicarakan mengapa pertambahan
penduduk berdasarkan status sosialnya; sedangkan dari ekonomi dibahas mengenai
konsekuensi dari pertambahan penduduk yang dihubungkan dengan penyediaan lapangan
kerja, produksi, konsumsi serta pendapatan nasional. Pokok bahasan dari disiplin
penunjang dikembangkan berdasarkan keperluan materi pokok bahasan utama. Oleh
karena itu sekuensi materi pokok bahasan tidak berdasarkan tata urutan keilmuannya
tetapi ia mengikuti tata urutan materi disiplin utama. Materi disiplin lain dukembangkan
sebagai dukungan pendalaman terhadap materi utama.
Kedudukan disiplin geografi dalam contoh diatas adalah sebagai disiplin utama.
Disiplin lain bersifat membantu dan kedudukannya adalah menyumbang terhadap apa
yang diperlukan disiplin utama.kedudukan yang dibicarakan disini adalah kedudukan
disiplin ilmu yang bersangkutan terhadap masalah. Suatu disiplin diakatakan memiliki
kedudukan utama jika ia langsung berhubungan dengan masalah dibahas sedangkan
dalam kedudukan yang menyumbang maka suatu disiplin tidak langsung berkaitan
dengan masalah tetapi ia menjadi penyumbang bagi disiplin utama dalam melakukan
kajian terhadap masalah. Ambar berikut ini memperlihatkan keterhubungan tersebut.
Dalam gambar ini permasalahan penduduk dijadikan pokok bahasan contoh. Untuk
membahas pokok bahasan tersebut maka disiplin geografi dijadikan disiplin utama
sedangkan disiplin ilmu-ilmu sosial lainnya dijadikan disiplin pendukung. Disiplin
geografi menggunakan keseluruhan teori dan konsep geografi untuk digunakan
membahas permasalahan kependudukan. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih
komprehensif, disiplin geografi meminta bantuan dari berbagai konsep dari disiplin lain
yang berkaitan dengan masalah kependudukan.
Gambar. 3 : Pendekatan Pengajaran Inter Disiplin
Sejarah Antropologi
Politik
Politik Politik
Geografi
PENDUDUK
Gambar diatas hanya sebagai contoh. Dalam situasi lain yang menjadi disiplin
utama dapat berganti dari geografi ke disiplin lainnya. Pemilihan mana yang menjadi
disiplin utama tidak sulit karena disiplin utama adalah disiplin yang berkaitan secara
keilmuan dengan masalah yang dikemukakan. Dalam aplikasinya di kurikulum SMA
1994 maka disiplin utama adalah disiplin yang sedang diajarkan guru. Jika guru tersebut
mengajarkan sosiologi maka disiplin utamanya adalah sosiologi dengan pokok bahasan
sosiologi pula.
Pembahasan yang menggunakan pendekatan antardisiplin memang akan
memberikan kedalaman pengatahuan dan wawasan siswa yang belajar pendidikan ilmuilmu
sosial. Berbagai dimensi dari persoalan penduduk dibahas secara seksama sehingga
siswa dapat menemukan persoalan dasar dari masalah kependudukan. Pendekatan yang
demikian meminta kemampuan siswa untuk berfikir meluas dan mendalam. Oleh karena
itu pendekatan semacam ini memerlukan ketekunan dan penguasaan materi yang sangat
baik serta kelincahan berfikir pada waktu beralih dari suatu pandangan disiplin ilmu
tertentu ke pandangan disiplin ilmu lainnya.
Dalam pendekatan antar disiplin, guru pendidikan ilmu sosial dapat meminta
bantuan temannya yang memiliki latar belakang pendidikan dalam suatu disiplin ilmu
lain untuk membantu membahas pokok permasalahan penduduk itu. Kenyataan semacam
ini seringkali harus dilakukan karena tidak semua guru menguasai disiplin ilmu sosial
lainnya dengan baik. Lagipula, guru dapat meminta guru disiplin ilmu lain di luar ilmuilmu
sosial untuk membantunya dalam membahas suatu persoalan. Dengan demikian,
pengembangan materi melibatkan banyak guru dan tidak perlu terbatas hanya pada guru
dari pendidikan ilmu-ilmu sosial saja.
Dalam mengembangkan pendekatan antardisiplin ini, perencanaan pengajaran
sudah harus dilakukan sejak awal semester atau awal catur wulan. Pada waktu itu sudah
harus ditentukan pokok bahasan mana yang akan diajarkan secara antardisiplin. Setelah
itu harus dibicarakan dengan teman sejawat mengenai sumbangan dari disiplin ilmunya
terhadap pokok permasalhan yang sudah diidentifikasi. Tentu saja pada waktu itu teman
sejawat yang bersangkutan mungkinmengajukan juga pokok bahasan dari disiplin
ilmunya yang meminta bantuan pengembangan dari disiplin ilmu lainnya.
Konsekuensi dari apa yang dikemukakan dalam dua alinea diatas. Pengajaran
dalam tim untuk pendidikan ilmu-ilmu sosial merupakan kenyataan pendidikan yang tak
dapat dielakkan. Artinya, pada waktu suatu pokok bahasan dibicarakan maka guru dari
berbagai disiplin membantu melihat masalah dari pandangannya. Bentuk pengajaran yang
demikian seringkali sulit dilakukan karena sulitnya pengaturan waktu. Pada waktu yang
bersamaan guru yang diharapkan membantu suatu kelas harus hadir di kelasnya sendiri
untuk mata pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya. Oleh karena itu dalam semester
mungkin cukup sekali guru melakukan pengajaran melalui tim ini.
Selain kesulitan dalam pelaksanaan, kelemahan dari pendekatan antardisiplin
ialah ia menghendaki kemampuan berfikir yang lebih tinggi. Siswa diminta untuk beralih
dalam berfikir dari satu disiplin ke disiplin lain secara cepat dalam waktu yang dapt
dikatakan hampir bersamaan. Kemampuan yang demikian memerlukan latihan dan waktu
yang memadai sehingga siswa menjadi terampil.
Termasuk ke dalam pendekatan korelatif adalah pendekatan yang dinamakan
multidisiplin. Dalam perencanaannya, pendekatan ini lebih rumit dibandingkan
pendekatan antardisiplin tetapi ia lebih mudah dalam pengajarannya. Dalam pendekatan
ini kedudukan setiap disiplin ilmu itu sejajar (juxtaposition) (Hasan, 1976) dan
pengajaran dapat dilakukan dalam waktu yang terpisah; tidak perlu pada jam yang sama
asalkan dalam minggu yang sama.
Dalam pendekatan multidisiplin, materi pelajaran untuk satu pertemuan
dikembangkan sedemikian rupa sehingga siswa belajar mengenai suatu pokok bahasan
dari berbagai disiplin ilmu. Perbedaannya dari pendekatan antardisiplin ialah dalam
pendekatan multi disiplin pokok bahasan utama tidak ada dan disiplin utama untuk suatu
pokok bahasan tidak ada juga. Setiap disiplin ilmu memiliki kedudukan sejajar dangan
pokok bahasan yang dibicarakan adalah pokok bahasan utama.
Ada dua cara yang dapat dikembangkan dalam penerapan pendekatan multi
disiplin. Cara pertama adalah yang termudah yaitu dengan cara mencari pokok bahasan
atau konsep yang sama untuk setiap disiplin. Dari table tentang konsep-konsep dalam
disiplin ilmu-ilmu sosial terlihat bahwa ada beberapa konsep yang memiliki nama yang
sama. Konsep ruang dan waktu dapat dibahas bersama antara sejarah dan geogarfi.
Konsep distribusi dapat dibahas bersama antara geogarfi dengan ekonomi, dan
sebagainya.
Pada awal semester guru-guru yang mengajar disiplin ilmu-ilmu sosial pada kelas
yang sama dapat melakukan identifikasi pokok-pokok bahasan yang sama atau memiliki
kesamaan seperti yang dikemukakan dalam pembicaraan mengenai kesamaan nama
konsep. Guru-guru tersebut dapat menentukan minggu bersama yang akan digunakan
membahas pokok-pokok bahasan tersebut. Permasalahan-permasalahan yang akan
dibicarakan pun sudah dapat dikembangkan pada saat perencanaan tersebut.
Dalam upaya mempertemukan bahasan tadi dalam minggu yang sama guru
pendidikan ilmu-ilmu sosial dapat saja mengubah urutan pokok bahasan yang sudah ada
dalam kurikulum. Hal ini sepenuhnya dibenarkan kurikulum, bahkan sangat dianjurkan
oleh kurikulum SMA 1994 (seperti kurikulum sebelumnya). Meskipun demikian, jika
penyamaan minggu bahasan itu menjadi masalah besar karena adanya prinsip asimilasi
atau apersepsi yang telah dibahas dalam bab sebelumnya, maka guru dapat saja tidak
menyamakan minggu bahasan. Guru merencanakan pembahasan itu sejak awal semester
bersama guru lain dan masing-masing menentukan minggu bahasan untuk untuk mata
pelajarannya masing-masing. Dalam situasi yang demikian, guru yang awal dapat
mengatakan dikelas bahwa persoalan itu akan lebih lanjut dalam mata pelajaran
berikutnya sedangkan guru yang belakangan dapat merujuk bahasan yang telah dilakukan
sebagai bahan apersepsi untuk materi yang akan diajarkannya.
Cara kedua adalah dengan merumuskan pokok bahasan yang dikembangkan
bersama dan akan berkenaan dengan berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial. Sebagai contoh,
katakanlah disepakati untuk membahas masalah kependudukan. Hal ini disepakati karena
masalah kependudukan adalah masalah yang actual dan diperkirakan akan terus menjadi
masalah sosial yang cukup penting. Sedangkan dilihat dari berbagai pandangan disiplin
ilmu dapat diakatakan bahwa setiap disiplin ilmu-ilmu sosial dapat membahas masalah
kependudukan tersebut (setiap disiplin memiliki konsep yang sesuai untuk membahas
masalah penduduk). Dalam pendekatan ini setiap disiplin ilmu membahas mengenai
pokok bahasan yang berjudul penduduk tetapi setiap disiplin ilmu mendiskusikan pokok
bahasan sepenuhnya dari pokok pikiran keilmuannya. Untuk itu setiap pokok bahasan
menggunakan konsepnya masing-masing dalam membahas masalah kependudukan.
Disini kependudukan menjadi topik dan konsep dari suatu disiplin ilmu. Gambar berikut
ini menjelaskan perbedaannya dengan pendekatan antardisiplin.
Gambar. 4 : Pendekatan Pengajaran Multidisiplin
Gambar di atas menunjukkan pula bahwa beberapa konsep antara berbagai disiplin itu
dapat saja sama labelnya tetapi dapat juga berbeda. Semakin banyak konsep yang
digunakan untuk membahas masalah yang dimaksudkan maka akan semakin mendalam
bahasan yang dilakukan terhadap masalah tersebut.
Dalam model pengembangan materi mutidisiplin melalui cara kedua (yaitu diajarkan
dalam pertemuan-pertemuan yang berbeda, disesuaikan dengan jadwal pelajaran mata
pelajaran tersebut) siswa tidaqk dihadapkan kepada persoalan harus merubah cara
berpikir dalam waktu singkat. Ia memusatkan perhatian itu dari sudut suatu disiplin ilmu
GEOGRAFI
PENDUDUK
SEJARAH POLITIK
- Ditribusi
- Pertumbuhan
- Mata Pencaharian
SOSIOLOGI
EKONOMI
- Perubahan
- Kebutuhan
- Struktur
ANTROPOLOGI
- Nilai
- Mobilitas
- Interaksi
- Perubahan
- Perkembangan
- Pertumbuhan
- Perubahan
tertentu pada suatu waktu tertentu. Mungkin saja dalam satu minggu mereka belajar
persoalan kependudukandari berbagai disiplin ilmu dalam waktu dan alokasi jam yang
telah ditentukan untuk setiap mata pelajaran. Model pengembangan materi kurikulum
yang demikian tetap menuntut kerja sama yang baik. Salah satu guru tidak melakukan
tugas dengan baik maka keseluruhan kespakatan menjadi hancur dan pendidikan ilmuilmu
sosial kembali menjadi pendidikan disiplin ilmu yang terpisah.
3. Pengorganisasian Fusi.
Sesuai dengan namanya dalam organisasi fusi.ciri dan warna disiplim ilmu sudah
tidak tampak. Dalam organisasi semacam ini orang tidak dapat mengatakan bahwa ini
adalah bahsan geografi, ekonomi atau lainnya. Fusi itu memberi kesan seolah-olah ada
sesuatu yang baru dimunculkan dari disiplin yang ada. Peleburan dalam model fusi tidak
harus melahirkan suatu disiplin baru sebagai hasil sintensis dari disiplin ilmu yang ada.
Peleburan tersebut dilakukan atas dasar pertimbangan pendidikan dan bukan atas dasar
pertimbangan kepentingan pendidikan dan bukan atas dasar pertimbangan keilmuan.
Pertimbngan pendidikan mengutamakan kepentingan siswa di atas kepentingan disiplin
ilmu
Selanjutnya Hamid Hasan, mengemukakan bahwa pengembangan materi
berdasarkan fusi baru dapat dilakukan apabila pokok bahasan tidak lagi diidentifikasi dari
suatu disiplin ilmu. Materi yang nantinya dijadikan pokok bahasan haruslah
dikembangkan dari fenomena sosial yang ada. Cara lain adalah dengan mengiidentifikasi
berbagai teori, generalisasi, konsep, prosedur yang berlaku untuk berbagai disiplin ilmu
yang ada. Konsep seringkali kaku dan keberlakuannya terbatas pada suatu disiplin ilmu
tertentu. Pengembangan materi yang berdasarkan pendekatan organisasi fusi meminta
pengorbanan disiplin ilmu untuk tidak menonjolkan dirinya. Sebagai contoh apabila
pokok bahasan yang diidentifikasi dan akan diajarkan adalah penduduk maka konsepkonsep
penting diginakan untuk membahas pokok bahasan tersebut tanpa
mengiidentiofiksi disiplin ilmu asal konsep tersebut. Oleh karena itu konsep distribusi
penduduk dilihat dari distribusi geografis, distribusi sosiologis ataupun distribusi
antropologis. Siswa memiliki keleluasaan penggunaan konsep distribusi.
Contoh pokok bahasan kependudukan
Gambar. 5 : Pengajaran dengan pendekatan fusi
- Pengertian
- Distribusi (ruang, waktu, ekonomi)
- Kebutuhan (sosial, budaya, ekonomi
- Kelompok (status sosial, ekonomi, etnis, tempat tinggal)
KEPENDUDUKAN
Kependudukan
Pada gambar terlihat bahwa untuk mempelajari kependudukan siswa belajar
tentang pengertian, distribusi, kebutuhan, dan pengelompokan. Konsep yang
dicantumkan di sini hanyalah sebagian dari konsep-konsep yang mungkin dapat
digunakan untuk mempelajari kependudukan. Konsep-konsep yang digunakan doi atas
dipilih berdasarkan kegunaannya dalam mempelajari kependudukan dan secara langsung
konsep-konsep tersebut tidak dinyatakan sebagai konsep suatu disiplin ilmu tertentu. Ia
merupakan konsep yang memiliki pengertian lebih umum dari pengertian yang diberikan
suatu disiplin ilmu tertentu. Dengan demikian siswa tidak lagi dituntut untuk
memanfaatkan pengertian yang diberikan masing-masing disiplin.
Pengorganisasian materi yang berdasarkan pendekatan fusi memang dapat
dikatakan banyak menghilangkan karakteristik disiplin ilmu. Siswa diajak berpikir dalam
alur berpikir logis yang sifatnya umum dan tidak terbatas pada logika keilmuan disiplin
tertetnu. Pengorganisasian materi fusi untuk pendidikan ilmu-ilmu sosial melahirkan
kelompok tertentu dalan social studies dalam IPS. Dalam kenyataan kurikulum yag ada di
sekolah sekarang , kurikulum IPS SD dan SMP dimaksudkan sebagai organisasi fusi
sedangkan pengembangan materi pendidikan ilmu sosial di SMA menggunakan
pendekatan terpisah.
L A T I H A N
1. Apa yang dimaksud dengan materi kurikulum ?
2. Apa yang dimaksud dengan Konsep menurut Brunner, Goodnow dan Austin?
3. Sebut teori besar menurut Toynbee?
Petujuk Jawaban Latihan
1. Materi kurikulum adalah proses, prosedur, dan langkah-langkah yang harus
ditempuh oleh siswa dalam mempelajari substansi (pandangan, tema, topik,
fenomena, fakta, peristiwa, konsep, generalisasi dan teori) tersebut, dalam arti apa
yang dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya.
2. Konsep diartikan sebagai abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari
sekelompok benda atau sifat.
3. Teori besar menurut Toynbee adalah perkembangan peradaban umat manusia
terdiri dari 4 masa, yaitu kelahiran peradaban (the geneses of civilizations0,
pertumbuhan peradaban (the grows of civilizations), kemunduran peradaban (the
breakdowns of civilizations) dan kehancuran peradaban ( the disintegrasi of
civilizations)
Rangkuman
Pengertian materi adalah mencakup aspek substansi dan aspek proses. Aspek
substansi memberikan apa yang harus dipelajari siswa sebagai suatu objek studi. Aspek
proses memberikan apa yang harus dipelajari siswa sebagai suatu alat yang akan
digunakan untuk belajar substansi lebih lanjurt. Aspek substansi terdiri atas teori,
generailasai, konsep, fakta, sikap, nilai dan moral. Aspek proses terdiri atas keterampilan
akademik dan sosial.
Pengembangan materi pendidikan ilmu-ilmu sosial dari pendekatan disiplin
tunggal atau terpisah, pendekatan korelasi yang terdiri aras antar disiplin dan multi
disiplin. Perbedaan antara ketiganya digambarkan dalam keduduakan setiap disiplin
dalam menentukan tata urutan materi yang dikaji. Dalam pendekatan disiplin terpisah
kebebasan disiplin dalam menentukan materi sangat besar, dapat dikatakan sepenuhnya.
Pendekatan korelatif kemerdekaan yang denikian sudah tidak mungkin dilakukan setiap
disiplin harus melepaskan kebebasan dalam menentukan materi disiplin ilmunya semata.
Setiap disiplin ilmu harus memperhatikan kepentingan disiplin ilmu lainnya.
Perbedaan antara pendekatan antar disiplin dan multidisiplin digambarkan dalam
perbedaan kebebasan dan kedudukan disiplin ilmu terhadap pokok bahsan. Dalam
pendekatan antardisplin kebebasan lebih besar dimiliki oleh suatu disiplin ilmu yang
dinyatakan sebagai disiplin ilmu utama. Sedangkan dalam disiplin ilmu penunjang harus
membatasi dirinya sesuai dengan kebutuhan yang diminta oleh disiplin ilmu utama.
Dalam pengembangan materi yang berdasarkan pendekatan multidisiplin ilmu
memiliki kebebasan yang sama sepanjang kebersamaan di antara disiplin ilmu terjaga.
Untuk suatu pokok bahsan setiap disiplin ilmu dapat mengkajinya dari konsep-konsep
yang relevan yang dimilikinya untuk pokok bahasan tersebut. Pendekatan fusi di mana
dinyatakan bahwa ciri disiplin ilmu sudah tidak mendapatkan tempat. Pengembangan
materi seperti hal itu dirasakan sesuai untuk pengorganisasian kurikulum yang
menggunakan pendekatan IPS sepereti yang dilakukan untuk SMP. Permasalahan sosial
dijadikan dasar utama dan bukan disiplin ilmu. Materi dari disiplin ilmu dikembangkan
untuk membahas pokok permasalahan sosial yang telah diidentifikasi. Dalam banyak hal
pendekatan fusi memiliki kesamaan dengan pendekatan multidisiplin, terkecuali dalam
kemandirian dan keutuhan masing-masing disiplin.
Test Formatif 2
1. Teori adalah kompisisi yang dihasilkan dari pengembangan sejumlah preposisi atau
generalisasi yang dianggap memiliki keterhubungan secara sistematis. Teori ini
dikemukakan oleh…………
A. Bloom
B. Krathwohl
C. Goetz dan LeCompte
D. Lincoln
2.Yang dimaksud dengan teori besar atau grand theory adalah :
A. Sistem yang secara ketat mengkaitkan preposisi-preposisi dan konsep-konsep
yang abstrak sehingga dapat digunakan menguraikan menjelaskan, dan
memprediksi secara komprehensif sejumlah fenomena besar secara non -
probabilitas.
B. Preposisi atau konsep yang hanya berlaku untuk kelompok populasi lingkungan,
atau waktu tertentu.
C. Sebagai keterhubungan yang longgar (tidak ketat) antara sejumlah asumsi, konsep
dan preposisi yang membentuk pandangan ilmuwan tentang dunia.
D. Preposisi atau konsep yang hanya berlaku untuk kelompok populasi lingkungan
atau waktu tertentu.
3. Dari ke empat teori di bawah ini manakah yang termasuk teori yang paling rendah ?
A. Theoretical Models
B. Formaf and Midle-range Theory
C. Substantive Theory
D. Grand Theory
4. Dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial, teori yang banyak melibatkan siswa secara
langsung dalam proses, adalah …
A. Formal and Midle-range Theory
B. Substantive Teory
C. Theoretical Models
D. Grand Theory
5. Materi kurikulum pendidikan ilmu-ilmu sosial yang paling banyak digunakan adalah
konsep. Yang dimaksud dengan konsep adalah …
A. Abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari sekelompok benda atau sifat.
B. Menggambarkan keterhubungan antara dua atau lebih konsep dan merupakan
hasil yang sudah teruji secara empirik.
C. Abstraksi ketidak samaan dari sekelompok benda atau sifat.
D. Tidak menggambarkan keterhubungan antara dua atau lebih konsep.
6. Yang dimaksud dengan generalisasi adalah….
A. Kesimpulan yang tidak objektif.
B. Kesimpulan secara khusus
C. Kesimpulan umum.
D. Kesimpulan yang objektif
7. Konsep memiliki anggota dengan antribut yang memiliki nilai beragam, disebut
dengan konsep ?
A. Konjungtif
B. Disjungtif
C. Konstruktif
D. Relasional .
8. Fakta adalah “buiding blocks” yang digunakan untuk menghubunhkan konsep dan
generalisasi. Pernyataan tersebut di atas dikemukakan oleh …
A. Schunche.
B. Bloom
C. Brunner.
D. Goodnow
9. Yang dimaksud dengan sikap dalam pendidikan ilmu-ilmu sosial, adalah ….
A. Sesuatu yang dilakukan seseorang yang menyangkut aspek psikologis
B. Kedenderungan psikologis seseorang terhadap benda, sifat, keadaan, pekerjaan,
pendapat dan sebagainya.
C. Sesuatu yang berkenaan dengan perilaku seseorang dalam bertindak
D. Suatu tindakan, pendapat atau hasi kerja.
10. Memiliki rasa cinta tanah air merupakan bentuk…
A. Moral.
B. Sikap.
C. Nilai
D. Kepribadian
BALIKAN & TINDAK LANJUT
Cocokkanlah jawaban anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang terdapat
dibagian akhir Bahan Belajar Mandiri ini. Hitunglah jumlah jawaban anda yang benar,
kemudian gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda dalam
materi Kegiatan Belajar 2.
Rumus
Tingkat Penguasaan = 100%
10
´ JumlahjawabanAndayangbenar
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai
90 % -100 % = baik sekali
80 % - 89 % = baik
70 % - 79 % = cukup
< 70 % = kurang
Kalau Anda mencapai tingkat penguasaan 80 % ke atas, anda dapat melanjutkan
dengan Kegiatan Belajar 3. akan tetapi, jika tingkat penguasaan Anda masih di bawah
80%, silahkan Anda mengulangi kembali mempelajari Kegiatan Belajar 2, terutama
bagian-bagian yang belum Anda kuasai.
KUNCI JAWABAN TES FORMATIF
Tes Formatif - 1
1. A. Hamid Hasan
2. B. Perbedaan pendekatan yang diterapkan pada masing-masing jenjang persekolahan
3. A. National Communission for the Social Studies
4. A. Integrated.
5. A. Manusia seutuhnya
6. C. Budaya
7. D. Aborijin
8. C. Bahasa, Kesenian, dan adat istiadat
9. A. Amerika Serikat
10. C. Tahun 1972-1973
Tes Formatif - 2
1. C. Goetz dan Leompte
2. A. Sistem yang secara ketat ,mengkaitkan preposisi-preposisi dan konsep-konsep
yang abstrak sehingga dapat digunakan menguraikan, menjelaskan, dan memprediksi
secara komprehensif sejumlah fenomena besar secara non-probabilitas
3. C. substabtif theory
4. B. substantive theory
5. A. Abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari sekelompok benda atau sifat
6. C. kesimpulan umum
7. A. Konjungtif
8. A. Schunche
9. B. Kecenderungan psikologis seseorang terhadap benda, sifat, keadaan, pekerjaan,
pendapat dan sebagainya.
10. C. Nilai
GLOSARIUM
Fakta : kesimpulan-kesimpulan yang diambil seseorang berdasarkan cara
pandang keilmuan terhadap data atau sekumpulan data.
Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan itulah maka data yang sudah
dikumpulkan memiliki makna.
Genaralisasi : kesimpulan yang berkenaan dengan sifat dan jenis keterhubungan
antara dua konsep atau kebih dan kesimpulan itu dirumuskan
dalam bentuk pernyataanyang memiliki daya keberlakuan dalam
berbagai ruang dan waktu. Dalam kesimpulan yang dinamakan
generalisasi itu terdapat juga struktur keterhubungan antara
konbsep-konsep.
Konsep : abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari sekelompok benda
atau sifat. Dalam keterhubungan itu terdapat struktur yang
menggambarkan keterhubungan antara berbagai atribut suatu
konsep. Konsep memiliki nama yang disebut label dan memiliki isi
yang dinyatakan dalam definisi.
Konsep disjungtif : adalah konsep yang memiliki anggota dengan atribut yang memilki
nilai beragam. Adanya perbedaan dan keragaman dalam nilai
atribut itu justru menjadi persamaan di antara keanggotaan konsep.
Konsep kojungtif : konsep yang memiliki anggota dengan persamaan yang sangat
benyak. Dapat dikatakan persamaan antara satu anggota dengan
anggota lain meliputi hampir sebagian besar bilai atribut konsep.
Konsep relasional : konsep yang dianggap paling tinggi tingkat abstraksinya karena
persamaan yang ada di antara anggota konsep dikembangkan
berdasarkan criteria tertentu dan tidak lagi bersifat konkret.
Materi proses : materi yang dipelajari siswa tetapi tidak berkenaan dengan aspek
seperti fakta, konsep, generalisasi atau pun teori berkenaan dengan
prosedur yang harus dilakukan. Materi pendidikan yang bersifat
proses harus dipelajari dalam bentuk kegiatan dan pelaksanaan
prose situ sendiri.
Materi Substansi : materi yang secara universal dipelajari siswa di kelas-kelas
pendidikan ilmu-ilmu sosial saat ini. Dalam materi yang demikian
siswa mengkaji fakta, konsep, definisi, pendapay, generalisasi,
teori, nilai, moral, dan sebagainya.
Pendekatan komunitas yang meluas ; pendekatan yang dikembangkan Paul Hanna
berdasarkan keterdekatan lingkungan terhadap siswa. Lingkungan
terdekat adalah keluarga, sampai lingkungan dunia. Dalam
lingkungan-lingkungan tersebut siswa mempelajari sembilan aspek
kehidupan manusia.
Daftar Pustaka
Ausubel, D.P. dan Roinson, F.G. 1969. School Learning: An Introduction to
Educational Psychology. New York: Holt, Rinehart and Winston, Inc.
Anggani Sudono. Alat permainan dan Sumber Belajar TK. Jakarta : Depdikbud.
Badruzaman, dkk. 2005. Media dan Sumber Belajar TK. Pusat Penelitian Universitas
Terbuka, Jakarta.
Barnes,B.1982. T.S. Kuhn and Social Sciences. London: The Macmillan Press.
Bloom, B.S. 1956. Taxonomy of Educational Objectives. London: Longman.
Hasan, S.H. 1976. The Analysis of The Use of Inquiry Approach in Teaching Social
Studies in Indonesia. Unpublished MA Extended Essay. Sydney: Macquarie
University.
Joyce, B. dan Weil, M. 1980. Models of Teaching. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice-Hall, Inc.
Marsh, C. 1991. Teaching Social Studies, New York: Prentice Hall.
Martorella, P.H. 1991. Knowledge and Concept Development in Cocial Studies, dalam
Handbook of Research on Social Studies Teaching an Leraning (ed. Shaver,
J.P). New York: Macmillan Publishing Company, Inc.
Nana Sudjana, Ahmad Rivai. Teknologi Pengajaran. Sinar Baru. Bandung.
----------------------------------. Media Pengajaran. Sinar Baru. Bandung.
Naylor, D.T. dan Diem, R. 1987. Elementary an Middle School Social Studies. New
York: Random House.
Phenix, P.H. 1964. The Realms of Meaning. New York: Mc.Graw-Hill Book Company.
Suchman, J.R. 1970. Motivation Inherent in The Pursuit of Meaning: Or The Desire to
Inquire, dalam IntrinsicMotivation: A New Direction in Education (Eds. Day,
H.I. dkk). Toronto: The Ontorio Institute for Studies in Education.
S. Hamid Hasan. 1995. Pendidikan Ilmu Sosial. Depdikbud, Dirjen Dikti, Senayan,
Jakarta.
Taba, H. 1967. Curriculum Development: Theory into Practice. New York: Harcourt,
Brace, and Jovanich.
Tim Dosen, UPI Kampus Tasikmalaya. 2006. Bahan Ajar Pendidikan IPS SD.
------------------------------------------------------. Konsep-konsep Dasar IPS SD.
Udin. S. Winataputra, dkk. 2007. Materi dan Pembelajaran IPS SD. Universitas
Terbuka. Jakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons