About

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto Saya
biasa2 saja...gak ganteng2 amat gak jelek2 amat...tapi banyak yang suka...hanya kurang PD aja,tapi selalu berfikir POSITIF...berserah diri pada ALLAH SWT.

talk n think my Blog

Memuat...

Jumat, 29 Juli 2011

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF

 1
METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF1
Oleh: Aman (posting sofyan di blognya)
A. Paradigma Penelitian
1. Positivisme dan Non-Positivisme
Ada dua pandangan besar dalam kegiatan penelitian yang menyangkut metode yaitu
pandangan positivistik dan non positivistik. Dalam paham positivistik, segala sesuatu atau
gejala itu dapat diukur secara positif atau pasti sehingga dapat dikuantifikasikan. Hal tersebut
tidak hanya berlaku dalam ilmu alam saja, tetapi juga pada ilmu sosial. Dalam ilmu alam,
paham positivistik tersebut tidak banyak menemui kendala karena objeknya adalah materi
atau benda. Tetapi ketika diterapkan pada ilmu sosial, maka bukan saja sulit dilakukan, tetapi
juga banyak ditentang oleh ilmuwan-ilmuwan sosial. Penganut paham positivistik tersebut
berpendapat bahwa segala sesuatu itu tidak boleh melebihi fakta. Dalam paham nonpositivistik,
kebenaran tidak hanya berhenti pada fakta, melainkan apa makna di balik fakta
tersebut. Dalam ilmu sosial, di mana kajiannya adalah manusia bukannya benda, maka
pandangannya lebih didominasi oleh pandangan non-positivistik. Dalam konsepsi ini, paham
positivistik diidentifikasikan dengan kegiatan riset kuantitatif, sedangkan paham nonpositivistik
diidentifikasikan sebagai kegiatan riset kualitatif. Namun demikian, perbedaan
paham tersebut berdampak positif terutama dijadikan sebagai ajang dialog dalam rangka
untuk mengembangkan keilmuan baik sosial maupun alam, untuk saling melengkapi kedua
paradigma tersebut.
2. Perkembangan Penelitian
Pada awal perkembangan riset kualitatif, terjadi pertentangan yang sangat tajam dengan
riset kuantitatif, yang sebelumnya secara kuat telah menguasai kegiatan penelitian di segala
bidang ilmu. Pada mulanya riset kualitatif dipandang sebagai kegiatan yang tidak bisa
dipercaya dan dipandang tidak ilmiah. Perdebatan panjang dan saling menyerang telah
terjadi dalam waktu yang cukup lama. Dengan menunjukkan kekuatanya masing-masing,
pertentangan tersebut telah berkembang dan mendudukkan posisi penelitian kualitatif
menjadi berbeda, yaitu sebagai pendekatan yang diakui oleh sebagian besar pakar penelitian
dan para ilmuan sebagai suatu alternatif metodologi penelitian yang bisa digunakan. Pada
saat ini kedua paradigma penelitian tersebut telah dinyatakan sama kedudukannya, dan
bahkan bisa saling membantu untuk memperkuat hasil penelitian. Perdebatan secara resmi
sudah tidak lagi terdapat pada artikel jurnal penelitian di dunia. Perdebatan sudah dipandang
berakhir. Namun banyak yang menyayangkan berakhirnya perdebatan tersebut, karena
ternyata perdebatan tersebut mempunyai dampak positif terutama dalam meningkatkan
kemantapan paradigma penelitian kualitatif.
Dalam menanggapi perkembangan pengetahuan manusia, Auguste Comte sebagai
tokoh positivisme telah merumuskan adanya tiga jaman yaitu jaman teologis, metafisis, dan
positif. Dalam jaman teologis diyakini adanya kuasa adi kodrati yang mengatur gerak dan
fungsi semua gejala alam ini. Kuasa tersebut berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada
makhluk insani. Jaman ini dinyatakan terbagi menjadi tiga periode yaitu animisme,
politeisme, dan monoteisme. Pada jaman metafisis, kuasa adi kodrati tersebut telah
digantikan dengan konsep-konsep abstrak, seperti halnya “kodrat”, dan “penyebab”.
Selanjutnya pada jaman positif, manusia telah membatasi diri pada fakta yang tersaji dan
menetapkan hubungan antar fakta tersebut atas dasar observasi dan dengan menggunakan
kemampuan rasionya. Atas dasar itu perkembangan ilmu pengetahuan juga terbagi menjadi
1 Disampaikan dalam acara Diklat Penulisan Skripsi Mahasiswa Pendidikan Sosiologi yang
diselenggarakan oleh HIMA Pendidikan Sejarah FISE UNY pada tanggal 23 Mei 2007.
2
tiga, yang pada awalnya bersifat teologis, kemudian berkembangan menjadi metafisis, dan
selanjutnya dianggap mencapai kematangan positif. Jaman positif ini berkaitan dengan
berkembangnya faham positifisme, yang menyatakan bahwa pengetahuan kita tidak boleh
melebihi fakta, karena ilmu pengetahuan bersifat faktual.
Dilihat dari sejarah jaman keyakinan yang mendasari perkembangan ilmu menjelaskan
bahwa jaman yang satu digantikan oleh jaman berikutnya, sebagai hasil perkembangan
kesadaran manusia dengan pola pikirnya mengenai kenyataan yang ada di alam kehidupan
manusia ini. Dalam kenyataan selanjutnya, sampai dengan saat ini perkembangan jaman
tersebut tidak berakhir sampai pada positivisme, karena dewasa ini sudah berkembanga
faham baru yang mulai meninggalkan positivisme dan menyajikan keyakinan dengan warna
yang berbeda, dan memulai jaman baru yang disebut jaman pascapositivisme. Dengan
demikian perkembangan jaman keilmuan dinyatakan terdiri dari tiga jaman yakni jaman
prapositivisme, positivisme, dan pascapositivisme (Lincoln, 1985).
Perkembangan penelitian, baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial, selama ini
telah melewati sejumlah jaman paradigma, dengan periode-periode dimana seperangkat
kepercayaan dasar tertentu membimbing para peneliti dalam cara-cara yang sangat berbedabeda.
Setiap jaman (prapositivisme, positivisme, dan pascapositivisme) memiliki seperangkat
keyakinan dasar yang unik, merupakan prinsip metefisis, yang harus dipercaya dan
digunakan sebagai petunjuk bagi setiap aksi atau aktivitas.
Jaman prapositivisme merupakan jaman yang paling lama, dan perkembangan ilmu
pada jaman itu kenyetaanya berjalan lambat. Secara garis besar jaman itu berlangsung sejak
Aristoteles (384-322 B.C) sampai sebelum David Home (1711-1776). Pada jaman ini para
ilmuan bertindak sebagai pengamat pasif, dan semuanya berjalan secara “alamiah.” Usaha
manusia untuk mempelajari alam dipandang sebagai intervensi dan tidak alamiah, sehingga
apa yang dipelajari merupakan distorsi. Aristoteles percaya pada gerakan alamiah, dan
intervensi manusia akan menghasilkan gerakan yang memerlukan energi dan tidak
berkelanjutan secara tidak alamiah. Ia menyebutkan dua prinsip, yang secara umum dikenal
dengan “hukum kontradiksi” yang menyatakan bahwa tak pernah ada proposisi yang bisa
benar dan salah, yang kedua-duanya terjadi pada waktu yang sama, dan hukum “excluded
middle” yang menyatakan bahwa setiap proposisi mestinya baik benar maupun salah, yang
bilamana dilakukan oleh yang bukan intervensionis atau pengamat pasif tampak cukup untuk
mendukung pemahaman ilmiah yang diperlukan.
Perkembangan selanjutnya pada saat para ilmuan mulai menjamah keluar, mencoba
gagasan-gagasan dan melihat apakah gagasan tersebut terjadi, akhirnya sampai pada tingkat
pengamat aktif, dan ilmu pengetahuan mulai menyentuh jaman positivisme yang dirasakan
lebih tepat untuk menjawab kebutuhan untuk memahami kehidupan ini yang sangat berkaitan
dengan meningkatnya kebutuhan hidup dan pengalaman manusia, perubahan faham tersebut
semakin cepat berkembang, dan gerakan baru ini mulai menentang faham sebelumnya yaitu
prapossitivisme.
Positivisme bisa dirumuskan sebagai sekeluarga filsafat yang bercirikan evaluasi
pengetahuan dan metode ilmiah yang secara exstrim positif. Sebenarnya gerakan filsafat
tersebut dimaksudkan untuk melakukan reformasi pada beragam area yang berbeda seperti
etika, religi, politik, dan fisafat. Sebagai filsafat gerakan ini dimulai pada awal abad 19,
berawal di Perancis dan Jerman. Pendukung yang paling kuat dalam abad 20 dibentuk oleh
kelompok yang dikenal sebagai “the viena circle of logical positivist “ yang didukung oleh
para ilmuan terkemuka. Namun kenyataannya positivisme memiliki dampak yang kuat tidak
pda etika, religi, politik, dan filsafat, tetapi justru pada metode ilmiah. Jaman ini memulai dan
memacu perkembangan ilmu pengetahuan secara pesat, dan pengaruhnya sangat kuat dalam
berbagai bidang disiplin ilmu.
Faham positivisme menyatakan bahwa pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta.
Ilmu pengetahuan bersifat faktual. Faham positivisme ini kemudian sangat menunjang
3
berkembangnya empirisme, karena itu sangat mengutamakan pengalaman, tetapi dibatasi
hanya pada pengalaman objektif saja. Demikian pula rasionalisme berkembang dan
mempengaruhi pola pikir dalam keilmuan. Pengikut rasinolisme mengutamakan pikir untuk
memperoleh kebenaran yang harus dikenalnya, bahkan sebelum adanya pengalaman. Jika
kita menghendaki kesimpulan pengetahuan yang benar, maka premis-premis yang diajukan
harus benar secara mutlak. Dua aliran tersebut ternyata saling bersifat berat sebelah dan tidak
lengkap, sehingga terjadilah perpaduan keduanya (dengan teori fenomenalismenya Kant), dan
memililki dampak yang sangat positif dalam perkembangan ilmu.
Dengan faham positivisme ini kemudian mulailah gerakan memperdalam dan
mengembangkan ilmu pengetahuan lewat observasi dan exsperimentasi. Pandangan dunia
Aristotelian yang menguasai abad pertengahan, akhirnya ditinggalkan secara definitif. Pada
abad 17 faham tersebut melahirkan revolusi ilmu pengetahuan secara lengkap, dengan
semboyan : “berani-lah berpikir.” Selanjutnya pada abad 18 pemikiran ilmiah telah menjadi
mantap. Abad ini merupakan periode eksperimen untuk sebagian besar cabang ilmu
pengetahuan (Mendelson, 1980).
Kini riset kualitatif telah banyak digunakan dalam berbagai bidang ilmu, antara lain
dalam penelitian kebijakan, ilmu politik, administrasi, psiklogi, organisasi dan manajemen,
serta perencanaan kota dan regional. Strategi riset ini dalam bentuk studi kasus sudah banyak
sekali digunakan untuk penyusunan tesis dan disertasi dalam ilmu-ilmu sosial (Yin, 1987).
Bahkan kegiatan riset pendidikan yang semula hanya didasarkan pada pola pengukuran
kuantitatif, definisi operasional, dan menekankan pada fakta empiris, sekarang sudah
berubah arah dengan memberikan tempat yang sentral pada riset kualitatif yang menekankan
analisis induktif, dengan deskripsi yang kaya nuansa, dan riset tentang persepsi manusia
(Bogdan & Biklen, 1982). Berbagai bidang eksakta kini sudah mulai menyadari kekuatan
paradigma riset kualitatif, dan beragam penelitian dalam bidang-bidang tersebut mulai
memperkuat diri dengan memanfaatkan penelitian ini.
B. Jenis-jenis Penelitian
Sedangkan berdasarkan metode atau pendekatan, penelitian dibagi menjadi beberapa
jenis yakni sebagai berikut.
1. Penelitian Historis
Penelitian historis merupakan suatu penelitian terhadap peristiwa-peristiwa masa lampau.
2. Penelitian Kualitatif
a. Pengertian umum
Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang lebih mengutamakan pada masalah
proses dan makna/persepsi, di mana penelitian ini diharapkan dapat mengungkap berbagai
informasi kualitatif dengan deskripsi-analisis yang teliti dan penuh makna, yang juga tidak
menolak informasi kuantitatif dalam bentuk angka maupun jumlah. Pada tiap-tiap obyek akan
dilihat kecenderungan, pola pikir, ketidakteraturan, serta tampilan perilaku dan integrasinya
sebagaimana dalam studi kasus genetik (Muhadjir, 1996: 243).
b. Karakteristik Penelitian Kualitatif
Memahami dan mengenal karakteristik penelitian kualitatif akan memudahkan peneliti
untuk mengambil arah dan jalur yang benar, baik di dalam memilih topik penelitian,
menyusun proposal, melakukan pengumpulan data, analisis, dan juga mengembangkan
laporan studinya. Dalam perkembangan riset kualitatif yang semakin kaya variasinya, riset ini
memiliki keluwesan bentuk dan strateginya. Kreasi pada pemikir dan peneliti kualitatif dalam
berbagai bidang yang relative baru bagi peneliti ini, memungkinkan perumusan
karakteristiknya tidak bersifat definitif (Sutopo, 1996). Dari beragam bentuk dan strategi
4
yang telah dikembangkan selama ini terlihat karakteristik pokoknya yang semakin menonjol
sehingga bisa dirumuskan secara lebih jelas. Dalam perjalanan pekembangan penelitian
kualitatif selama ini karakteristik tersebut meski tidak selalu dimiliki oleh setiap jenis studi
kualitatif namun merupakan milik metodologi penelitian kualitatif secara keseluruhan.
Beberapa karakteristik tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut.
1). Natural setting ( kondisi seperti apa adanya)
Pada topik riset kualitatif diarahkan pada kondisi asli subjek penelitian berada. Kondisi
subjek sama sekali tidak dijamah oleh perlakuan (treatment) yang dikendalikan oleh peneliti
seperti halnya di dalam penelitian eksperimental. Peneliti menjelajahi kancah dan
menghabiskan waktunya dalam mengumpulkan data secara langsung. Penelitian ini
cenderung mengarahkan kajiannya pada perilaku manusia sehari-hari dalam keadaanya yang
rutin secara apa adanya (Van Maanen, 1984). Kondisi subjek berjalan alami tanpa adanya
keterlibatan atau pun keterlibatan aktif peneliti di lapangan.
2). Permasalahan Masa Kini
Penelitian kualitatif mengarahkan kegiatannya secara dekat pada masalah kekinian
(current event). Kepentingan pokoknya diletakkan pada peristiwa nyata dalam dunia aslinya,
bukan sekedar pada laporan yang ada Subjek peristiwa yang diteliti adalah subjek masa kini
dan bukan subjek masa lampau seperti dalam kebanyakan riset historis (Yin, 1987).
3). Memusatkan pada Deskripsi
Penelitian kualitatif melibatkan kegiatan ontologis. Data yang dikumpulkan berupa
kata-kata, kalimat atau gambar yang memiliki arti lebih daripada sekedar angka atau
frekuensi. Peneliti menekankan catatan yang menggambarkna situasi sebenarnya guna
mendukung penyajian data. Jadi dalam mencari pemahaman riset kualitataif tidak memotong
halaman ceritera dan data lainnya dengan symbol-simbol angka. Peneliti mencoba
menganalisis data dengan semua kekayaan wataknya yang penuh nuansa, sedekat mungkin
dengan bentuk aslinya seperti pada waktu dicatat. Tidak seperti halnya riset kuantitatif yang
menggunakan bahasa proposisi yang bersifat “de facto” (Eisner, 1983), yang cenderung
meruapakan reduksi kualitas dan realitas yang penting diketahui. Bahasa proposisi adalah
suatu “gross indicator” atas kualitas yang tidak mampu menangkap beragam nuansa
perbedaan. Padahal dalam hubungan antar manusia, nuansa adalah segala-galanya. Sifat
kualitatif lebih cocok untuk menghadapi realitas yang jamak, multiprespektif. Sifat penelitian
semacam ini mampu memperlihatkan secara langsung hubungan transaksi antara peneliti
dengan yang diteliti yang memudahkan pencarian kedalaman makna. Sifat semacam ini lebih
peka dan dapat disesuaikan dengan pengkajian bentuk pengaruh dan pola nilai-nilai yang
mungkin dihadapi peneliti(Sutopo, 1996).
4). Peneliti sebagai Alat Utama Riset (Human Instrument)
Walaupun berbagai alat pengumpulan data yang biasa kita kenal ada dimungkinkan
untuk digunakan, namun alat penelitian utamanya adalah penelitinya sendiri. Penggunaan
instrument yang kaku seperti halnya di dalam penelitian kuantitatif sangat menyulitkan bagi
terjadinya kelenturan sikap penelitian kualitatif yang selalu siap terbuka dan menyesuaikan
diri dengan kondisi yang baru dan mungkin berubah setiap waktu dengan beragam realitas
yang juga mungkin dijumpai. Perlu ada keyakinan bahwa hanya manusia yang mampu
menggapai dan menilai makna dari berbagai interaksi (Sutopo, 1996).
5
5). Purposive Sampling
Penelitian kualitatif tidak memilih sampling (cuplikan) yang bersifat acak (random
sampling). Teknik cuplikannya cenderung bersifat “purposive” karena dipandang lebih
mampu menangkap kedalaman data di dalam menghadapi realitas yang tidak tunggal.
Cuplikan ini memberikan kesempatan maksimal pada kemampuan peneliti untuk menyusun
teori yang dibentuk dari lapangan (grounded theory) dengan sangat memperhatikan kondisi
lokal dengan kekhususan nilai-nilainya (idiografis). Teknik cuplikan di dalam riset kualitatif
sering juga dinyatakan sebagai “internal sampling” karena sama sekali bukan dimaksudkan
untuk mengusahakan generalisasi tetapi untuk memperoleh kedalaman studi di dalam suatu
konteks tertentu(Yin, 1987).
6). Pemanfaatan “Tacit Knowledge”
Penelitian kualitatif mendukung memanfaatkan pengetahuan yang bersifat intuitif dan
dirasakan, sebagai tambahan pengetahuan yang bersifat proposional atau pengetahuan yang
dapat diekspresikan dalam bentuk bahasa karena seringkali nuansa realitas yang tidak tunggal
dapat difahami hanya dengan cara ini, dan kebanyakan interaksi peneliti dengan yang diteliti
terjadi pada tingkat ini. Pengetahuan jenis ini juga mencerminkan secara adil dan akurat nilainilai
penelitinya. Oleh karena itu dalam pengumpulan data, peneliti kualitatif tidak hanya
mencatat apa yang dinyatakan secara formal, tetapi juga mencatat berbagai hal yang
dirasakan dan ditangkap secara intuitif oleh penelitinya. Semuanya itu akan tercermin dalam
data pada bagian deskriptif dan reflektifnya.
7). Lebih Mementingkan Proses daripada Produk
Dalam riset kualitatif, bagaimana orang merundingkan makna? Bagaimana istilah
tersebut muncul dan digunakan? Bagaimana pandangan-pandangan tertentu timbul dan
menjadi bagian dari pandangan atau pengertian umum? Bagaimana sejarah dan aktivitas
peristiwa yang diteliti terjadi? Penekanan kualitatif pada proses secara khusus telah memberi
manfaat pada riset pendidikan dalam menjelaskan tentang “ramalan pencapaian diri”
mengenai pandangan tentang penampilan kognitif para siswa di sekolah yang ternyata
dipengaruhi oleh harapan gurunya terhadap mereka. Riset kuantitatif memang telah mampu
menunjukkan bahwa perubahan para siswa telah terjadi dengan menggunakan “pretest dan
posttest”.
8). Makna sebagai Perhatian Utama Riset
Dalam hal penemuan makna, peneliti berminat pada bagaimana cara orang memberi
makna pada kehidupannya sendiri. Dengan kata lain, peneliti memusatkan pada yang disebut
“ participant’s perspective” atau people’s point of view”, sehingga terhindari perumusan
maksud sesuatu di dalam konteksnya berdasarkan pandangan penelitiannya sendiri. Di dalam
mengumpulkan beragam informasi, peneliti memperhatikan proses bagaimana sesuatu
terjadi, karena makna mengenai sesuatu sangat ditentukan oleh proses bagaimana sesuatu itu
terjadi. Jika dalam penelitian kuantitatif dituntut untuk tidak melebihi fakta dan mencari
hubungan kausalitas, maka dalam penelitian kualitatif adalah mencari makna di balik fakta.
Di samping apa yang telah disebutkan mengenai karakteristik penelitian kualitatif di
atas, masih terdapat karakteristik lain yang menampilkan kekhususan dalam penelitian
kualitatif seperti: analisisnya bersifat induktif, struktur sebagai “ritual constraint”, bersifat
holistik, negotiated outcome, bentuk laporan dengan model studi kasus, interpretasi
ideografik, aplikasi tentatif, keterikatan yang ditentukan oleh fokusnya, dan penggunaan
criteria khusus bagi kebenaran (Sutopo, 1996: 45). Bila dibandingkan dengan penelitian
kuanitatif, jelaslah bahwa karakteristik riset kualitatif sangat berbeda, terutama dari segi
kompleksitasnya. Dengan pemahaman karakteristik tersebut, peneliti akan lebih sadar
mengenai apa yang harus dilakukan di dalam pelaksanaan risetnya, mulai dari penyusunan
6
proposalnya, pelaksanaan kegiatan di lapangan studinya, sampai dengan penyusunan laporan
penelitiannya secara lengkap. Selanjutnya, karakteristik tersebut tampak terwujud di dalam
beragam teknik dan langkah pelaksanaan penelitian secara lengkap.
3. Penelitian Kuantitatif
Dalam arti sempit istilah penelitian kuantitatif menunjuk suatu upaya pencatatan data
hasil penelitian dalam jumlah tertentu (quantum: jumlah) yang biasanya dinyatakan dalam
bentuk angka-angka atau statistik. Dalam arti luas penelitian kuantitatif menunjuk teknik
metodologi penelitian ilmiah yang berdasarkan pola kerja statistik, ialah dengan
mengumpulkan, menyusun, meringkas, dan menyajikan data-data dalam bentuk angka-angka
atau statistik, dan selanjutnya menarik kesimpulan-kesimpulan yang teliti dan mengambil
keputusan-keputusan yang logik dari pengolahan data-datanya.
4. Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen merupakan jenis penelitian kuantitatif tetapi terhadap subjek
penelitian diberikan perlakuan atau treatment, sehingga hasil yang diperoleh berdasarkan
hasil perlakuan tersebut. Penelitian eksperimen ini dapat dilakukan pada ilmu alam maupun
ilmu sosial. Pada ilmu alam, eksperimen dapat dilakukan dengan mudah karena objeknya
adalah alam seperti benda, tumbuhan, dan hewan. Sedangkan dalam ilmu sosial objeknya
adalah manusia. Ketika objek penelitian sosial adalah manusia, maka penelitian eksperimen
berupa tindakan atau sekarang ini dikenal dengan adanya penelitian tindakan atau action
research.
5. Penelitian Ex Post Facto
Penelitian ex post facto merupakan penelitian jenis kuantitatif tetapi variabel bebas atau
pengaruhnya terjadi lebih dulu baru kemudian variabel terikatnya. Dengan demikian
penelitian ini dilakukan dalam rangka untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi untuk
menemukan faktor-faktor yang mendahului sebagai penyebab gejala-gejala yang sedang
diteliti. Dalam penelitian ini, terdapat dua model yakni model kausal korelasional dan model
kausal komparatif.
6. Penelitian Holistik
Merupakan penelitian yang memadukan metode penelitian historis, kualitatif, dan
eksperimen.
C. Sistematika Penelitian Kualitatif
1. Pendahuluan
a. Latar Belakang
Menggambarkan fenomena-fenomena yang memunculkan masalah.
1). Pada bagian ini diuraikan situasi dan kondisi yang menarik perhatian peneliti dan
pembaca pada umumnya.
2). Kemukakan hal-hal yang ingin diketahui dan alasan mengapa peneliti tertarik
dengan topik itu.
3). Kemukakan juga mengapa hal itu perlu diteliti.
4). Berikan gambaran pula apa yang diharapkan sebagai hasil penelitian.
b. Identifikasi Masalah
Mengidentifikasi/memerinci masalah-masalah yang terdapat dalam latar belakang.
Dengan demikian, segala permasalahan yang terangkum dalam latar belakang masalah
dapat dikonkretkan dalam bentuk kalimat sederhana.
7
c. Pembatasan Masalah
Membatasi pada masalah yang akan diteliti, sehingga fokus penelitian menjadi jelas
dan terarah. Pembatasan ini berfungsi agar penelitian tidak bias sehingga tidak terjebak
dalam masalah-masalah yang kemudian timbul sebagai konsekuensi dari masalah yang
akan diteliti.
d. Perumusan Masalah
Merumuskan masalah yang terfokus pada permasalahan yang akan di teliti.
1). Rumuskan masalah penelitian dengan jalan mengaitkan fokus dengan sub-sub
fokus yang menjadi pertanyaan untuk dicarikan jawabannya.
2). Rumusan masalah penelitian harus menjawab pertanyaan “apa yang akan
diselesaikan peneliti dalam melakukan penelitian ini”.
3). Masalah penelitian itu dikemukakan dalam bentuk pertanyaan yang dirumuskan
secara tajam yang ingin dicari jawabannya dalam penelitian ini.
4). Rumuskan dengan menggunakan kata-kata yang tepat dengan bahasa yang
efisien.
e. Tujuan Penelitian
1). Merumuskan apa-apa yang ingin dicapai dalam penelitian.
2). Tujuan penelitian merupakan pernyataan operasional yang merincikan apa yang
akan diselesaikan dan dicapai dalam penelitian ini.
3). Tujuan itu dirumuskan sebagai upaya yang ditempuh oleh peneliti untuk
memecahkan masalah.
4). Rumusan tujuan itu menjawab pertanyaan: bagaimana peneliti menggunakan hasil
penelitiannya, dan bagaimana profesi sejenis menggunakan hasil penelitiannya.
f. Manfaat Penelitian
1). Mendeskripsikan manfaat yang didapatkan dari hasil penelitian.
2). Manfaat dapat ditujukan untuk pribadi, pembaca, maupun institusi.
3). Dalam bagian ini dikemukakan apa yang kiranya menjadi kegunaan hasil
penelitian baik bagi dunia bidang ilmu itu sendiri dan masyarakat pada
umumnya.
4). Manfaat penelitian dirumuskan secara singkat dan dengan bahasa yang tepat.
2. Kajian Teori dan Kerangka Pikir
a. Kajian Teori
Menelaah teori-teori, yang kemudian memunculkan paradigma. Contoh:
1). Acuan Teori 1
2). Acuan Teori 2
3). Acuan Teori 3
Hal ini berbeda dengan yang digunakan dalam penelitian kuantitatif, karena di sini bukan
untuk mengkaji teori melainkan sekedar memahami konsep apa yang akan diteliti.
Contohnya: Fokus mengenai pembelajaran sosiologi. Maka sub fokusnya dapat berupa:
metode pembelajaran sosiologi, perencanaan, media, strategi, dan evaluasi. Maka acuan
teorinya adalah perencanaan, metode, media, strategi, dan evaluasi pembelajaran
sosiologi.
b. Penelitian Yang Relevan
Bagian ini memuat hasil-hasil penelitian sebelumnya relevan dengan penelitian yang
telah dilakukan, yang telah dilakukan oleh penelitian lain, dengan maksud untuk
menghindari duplikasi. Di samping itu, untuk menunjukkan bahwa topik yang diteliti
8
belum pernah diteliti oleh peneliti lain dalam konteks yang sama. Dengan demikian
penelitian yang relevan perlu menunjukkan masalah apa yang akan diteliti, dan
kekurangan-kekuarangan apa yang terdapat dalam penelitian yang mendahului tersebut
sehingga perlu dilakukan penelitian kembali.
c. Kerangka Pikir
Mendeskripsikan Paradigma penelitian yang disesuaikan dengan permasalahan
penelitian, sehingga memperjelas alur pemikiran penulis atau peneliti dalam melakukan
penelitian. Kerangka pikir harus disusun mengikuti alur pikiran penulis, sehingga
penulis harus menunjukkan dari mana dulu meneliti melakukan penelitian, dan tujuan
apa yang hendak dicapai. Dengan demikian peneliti harus menunjukkan gejala-gejala
sosial yang hendak diteliti dan apa indikator ketercapaiannya.
3. Metodologi Penelitian
a. Lokasi Penelitian
Menunjuk tempat/kasus penelitian. Artinya, peneliti harus menjelaskan di mana penelitian
dilaksanakan, misalnya di kecamatan, desa, kampung, atau sekolah mana. Dengan
menunjukkan tempat, berarti penelitian kualitatif berlaku pada wilayah yang menjadi
tempat penelitian.
b. Waktu Penelitian
Menjelaskan berapa lama penelitian di laksanakan. Waktu harus dijelaskan agar peneliti
memiliki acuan waktu tentang kapan penelitian dapat dilaksanakan, dan kapan
diselesaikan. Tanpa batasan waktu yang jelas, maka peneliti akan kesulitan dalam
memprediksi penyelesaian penelitian.
c. Bentuk Penelitian
Kemukakan metode yang digunakan: naturalistik, etnografi, studi kasus, penelitian
tindakan, dan deskripsikan secara singkat. Contoh Kualitatif Deskriptif dengan strategi
Studi Kasus.
d. Sumber Data
1). Data-data yang akan digunakan atau dikumpulkan : Misal dokumen, hasil observasi,
wawancara, dan angket.
2). Apa dan siapa yang menjadi sumber data (jika belum dikemukakan sebelumnya), apa
satuan kajiannya (unit of analysis-nya).
3). Kemukakan bagaimana menjaga kerahasiaan sumber data.
4). Apakah pemilihan sumber data sesuai dengan acuan teori dan pertanyaan penelitian.
e. Teknik Pengumpulan Data
1). Kemukakan langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan data (dikaitkan
dengan metode/teknik penelitian yang digunakan)
2). Strategi/cara-cara untuk mandapatkan data: Misal: narrative interview, in depth
interview, observation, content analysis atau analisis isi.
3). Kemukakan bagaimana menjaga kerahasiaan sumber data.
4). Apakah pemilihan sumber data sesuai dengan acuan teori dan pertanyaan penelitian.
f. Teknik Cuplikan/Sampling
Menjelaskan cara pengambilan sampel: misal dengan Purposive Sampling dan internal
sampling. Purposive sampling, dimaksudkan bahwa sampel tidak dimaksudkan untuk
mewakili populasi, melainkan untuk mewakili informasi. Jika dalam penelitian
9
kuantitatif sampel harus mewakili populasi, misalnya ada prosentase atau rumus yang
jelas tentang pengambilan sampel, tetapi dalam kualitatif tidak berdasarkan pada
pertimbangan itu. Artinya ketika peneliti kualitatif hendak meneliti suatu masyarakat
pada suatu wilayah, maka informan yang dapat diambil boleh terbatas yang penting
informasinya dianggap sudah mewakili informasi secara keseluruhan.
g. Validitas Data
Untuk menjamin validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian, peneliti dapat
menggunakan teknik informan review atau umpan balik dari informan (Milles dan
Hubberman, 1992: 453). Selain itu peneliti juga menggunakan teknik triangulasi untuk
lebih menvalidkan data. Teknik triangulasi meliputi triangulasi sumber, triangulasi
metode, dan triangulasi teori. Triangulasi sumber, yakni mengumpulkan data sejenis
dari beberapa sumber yang berbeda. at. Triangulasi metode, yakni mengumpulkan data
yang sejenis dengan menggunakan teknik atau pengumpulan data yang berbeda.
Triangulasi teori untuk menginterpretasikan data yang sejenis..
h. Teknik Analisis
1). Jelaskan rencana analisis data (memilih salah satu model analisis atau dua model
diantaranya).
2). Uraikan secara singkat bagaimana prosesanalisis data yang ditempuh.
Misalnya adalah teknik analisis dengan model analisis interaktif (Miles dan
Huberman, 1984). Dalam model analisis ini, tiga komponen analisisnya yaitu reduksi
data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verivikasi, aktivitasnya dilakukan
dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suatu proses yang
berlanjut, berulang, dan terus-menerus hingga membentuk sebuah siklus. Secara
skematis proses analisis interaktif ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1. Model Analisis Interaktif Milles dan Hubberman
4. Pembahasan dan Analisis
a. Deskripsi Data
Mendeskripsikan data-data hasil analisis awal yang ditemukan
di Lapangan.
b. Pembahasan/Analisis
Membahas hasil analisis akhir dan disesuaikan dengan masalah
penelitian secara sistematis
Komponen pokok dari bagian ini adalah:
Pengumpulan
Data
Sajian Data
Reduksi Data Verifikasi/
Penarikan
Kesimpulan
10
1). Upayakan agar mengemukakan prinsip-prinsip, hubungan, dan generalisasi pada
bagian ini. Ingat bahwa kita tidak mengemukakan hasil lagi. Kemukakan kekecualian
atau kelemahan, dan juga kemukakan hal-hal yang dapat dicakup dalam penelitian
ini.
2). Tunjukkan pada bagian ini bahwa hasil yang diinterpretasi itu ada kesepakatan atau
bertentangan dengan hasil/temuan penelitian lainnya yang telah dipublikasikan.
3). Bahas implikasi hasil pekerjaan dan kemukakan seluruh kemungkinan aplikasi
praktisnya.
4). Nyatakan kesimpulan sejelas mungkin. Kemukakan hasil kesimpulan tentang
hipotesis atau tujuan penelitian. Kemukakan juga makna yang lebih luas tentang
kesimpulan itu.
5). Identifikasikan langkah-langkah berikutnya yang perlu ditempuh untuk penelitian di
masa mendatang.
c. Pokok-Pokok Temuan Penelitian
Menyampaikan hal-hal penting temuan penelitian.
d. Analisis Justifikasi
Analisis singkat dengan tujuan pembenaran.
5. Penutup
a. Simpulan
Menjelaskan jawaban singkat atas permasalahan penelitian secara
sistematis.
b. Implikasi
Berisi generalisasi teoritik dari hasil penelitian.
c. Rekomendasi
Masukan-masukan/saran baik untuk pribadi, pembaca, maupun
Institusi.
Daftar Pustaka
Buat daftar kepustakaan berurutan secara alfabetis, dan hanya yang dikutif dalam karya
ilmiah saja yang dikemukakan. Format yang lazim digunakan dalam penulisan karya ilmiah
agar menjadi perhatian.
Lampiran
Sumber Rujukan
Krippendorff, Klaus. 1991. Content Analysis: Introduction Its Theory and Methodology”,
Alih Bahasa Farid Wajidi, Analisis Isi: Pengantar Teori dan Metodologi. Jakarta:
Rajawali.
Miles, M.B. and Huberman, A.M. 1984. Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New
Methods. Beverly Hills CA: Sage Publications.
Moleong, L.J. 1999. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Muhadjir, Noeng. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.
Patton, M.Q. 1980. Qualitative Evaluation Methods. Beverly Hills, CA.: Sage Publication.
Spradley, J.P. 1980. Participant Observation. New York, N.Y.: holt, Rinehart, and Winston.
Sutopo, H.B. 1995. Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif.
Surakarta: UNS Press.
11
Sutopo, H.B. 1996: Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Jurusan Seni Rupa Fakultas
Sastra UNS.
Waluyo, H.J. 2000. “Hermeneutik Sebagai Pusat Pendekatan Kualitatif”, dalam Historika,
No.11. Surakarta: PPS UNJ KPK UNS.
Yin, R.K. 1987. Case Study Research: Design and Methods. Beverly Hills, CA: Sage
Publication.
Sekedar Contoh Judul atau Tema Skripsi
1. Metode Dakwah K.H. Abdullah Gimnastiar (Komunikasi Sosial)
2. Poligami dalam Perspektif Sosial-Religius (Sosiologi Agama)
3. Peranan MGMP dalam Dinamisasi Pembelajaran Sosiologi: Kasus Di Kabupaten Bantul
(Pendidikan Sosiologi)
4. Proses Identifikasi Siswa Terhadap Gaya Hidup dan Perilaku Artis: Kasus Di Kabupaten
Tegal (Psikologi Sosial)
5. Relasi Sosial Guru dan Siswa Di SMA Taruna Magelang (Sosiologi Pendidikan)
6. Perubahan Gaya Hidup dan Perilaku TKW Luar Negeri Di Desa Senggol Kecamatan
Purbalingga (Sosiologi Gender)
7. Pola Bertahan Hidup Masyarakat Miskin Pedesaan Di Kabupaten Fak Fak (Sosiologi
Pedesaan)
8. Konflik dan Persaingan Antar Klub dalam Persepakbolaan Nasional (Sosiologi Olah
Raga)
9. Pola Konsumsi Masyarakat Semikota Di Kecamatan Jatilawang Purwokerto (Sosiologi
Pedesaan)
10. Analisis Jaringan Sistem Lokalisasi Cipanas Garut (Studi Deviasi Sosial)
11. Perilaku Sosial-Budaya Masyarakat Kampung Naga Jawa Barat (Antropologi Sosial)
12. Karakteristik Masyarakat Miskin Perkotaan: Kasus Perkampungan Kumuh Kota Baru
Yogyakarta (Sosiologi Perkotaan)
13. Pola Pembangunan Wilayah Pantai Selatan Yogyakarta (Perencanaan Sosial/Sosiologi
Pembangunan)
14. Partisipasi Masyarakat Miskin Pedalaman dalam Pemilihan Kepala Daerah (Sosiologi
Politik)
15. Kewenangan Panwaslu dalam Menangani Kasus Pidana dan Non-Pidana dalam Tahapan
Pilpres (Sosiologi Hukum)
16. Tradisi Protes Kaum Buruh dalam Sistem Liberalisasi dan Industrialisasi Di Indonesia
(Sosiologi Industri)
17. Divergensi Struktur dan Proses Sosial Masyarakat Samin Blora (Struktur dan Proses
Sosial)
18. Pengembangan Kualitas Fungsional Mahasiswa UNY Melalui Pemberdayaan Ormawa
(Pengembangan SDM)
19. Studi Evaluatif Persiapan Mengajar Guru dalam Pembelajaran Sosiologi: Kasus Di SMA
Darul Hikmah Yogyakarta (Pendidikan Sosiologi)
20. Pola Senioritas Mahasiswa IPDN Bandung (Sosiologi Pendidikan)
21. Model Pembelajaran dan Sistem Evaluasi Pembelajaran Sosiologi Di Kelas Inklusif
MAN I Sleman (Pendidikan Sosiologi).

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons