About

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto Saya
biasa2 saja...gak ganteng2 amat gak jelek2 amat...tapi banyak yang suka...hanya kurang PD aja,tapi selalu berfikir POSITIF...berserah diri pada ALLAH SWT.

talk n think my Blog

Memuat...

Jumat, 29 Juli 2011

pengertian (prosocial behavior)

Pengertian
Tingkah laku prososial (prosocial behavior) adalah suatu tindakan menolong yang menguntungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut, dan mungkin bahkan melibatkan suatu risiko bagi orang yang menolong.
Istilah altruisme (altruism) kadang-kadang digunakan secara bergantian dengan tingkah laku prososial, tetapi altruisme yang sejati adalah tingkah laku yang merefleksikan pertimbangan untuk tidak memetingkan diri sendiri demi kebaikan orang lain.

Pandangan Psikolog Sosial
1.      Empati : Syarat Dasar.
Empati adalah respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distress emosional orang lain. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Seseorang dapat menjadi empatik kepada karakter fiktif sebagaimana kepada korban pada kehidupan nyata.
Banyak perbedaan pada minat seseorang untuk menolong bersumber pada motif altruistik yang berdasarkan pada empati (empathy). Empati meliputi komponen afektif maupun kognitif. Secara afektif, orang yang berempati merasakan apa yang orang lain rasakan. Secara kognitif, orang yang berempati memahami apa yang orang lain rasakan dan mengapa. Jadi, empati berarti tidak hanya seperti pernyataan popular Presiden Clinton "saya merasakan penderitaanmu", tetapi juga, "saya mengerti penderitaanmu".
Komponen afektif penting untuk empati, dan bahkan anak-anak berusia dua bulan tampak jelas merasakan stress sebagai respons dari stress yang dirasakan orang lain. Karakteristik yang sama juga diobservasi pada primata lain dan mungkin di antara anjing dan lumba-lumba juga. Manusia bahkan menunjukkan empati dengan tersipu-sipu ketika orang lain terlibat dalam keadaan yang memalukan, misalnya menyanyi karaoke dengan sumbang. Psikolog evolusioner menginterpretasikan penemuan-penemuan seperti ini sebagai indikasi dari bawaan biologis dari tingkah laku prososial. Menolong orang lain dan ditolong oleh orang lain jelas meningkatkan kesempatan bagi orang untuk dapat bertahan dan bereproduksi. Komponen afektif dari empati juga termasuk merasa  simpatik – tidak hanya merasakan penderitaan orang lain tetapi juga mengekspresikan kepedulian dan mencoba melakukan sesuatu untuk meringankan penderitaan mereka. Misalnya, individu yang memiliki empati tinggi lebih termotivasi untuk menolong seorang teman daripada mereka yang memiliki empati rendah.
Komponen kognitif dari empati tampaknya merupakan kualitas unik manusia yang berkembang hanya setelah kita melewati masa bayi. Kognisi yang relevan termasuk kemampuan untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain, kadang-kadang disebut sebagai sebagai mengambil perpektif (perspective taking) – mampu untuk "menempatkan diri dalam posisis orang lain", atau, dalam ekspresi orang Indian, "berjalan satu mil dalam mokasinku".

2.      Kadar Empati yang Dimiliki Masing-masing Orang Berbeda
Di samping akar biologis dari empati, manusia berbeda dalam bagaimana mereka berespons terhadap tekanan/ distress emosional orang lain. Rentang melebar mulai dari individu yang sangat berempati yang secara konsisten merasa tertekan ketika seseorang merasa tidak bahagia sampai individu sosiopatik yang secara emosional tidak terpengaruh terhadap keadaan emosional orang lain.
Faktor keturunan mendasari dua aspek afektif dari empati (tekanan personal dan kepedulian simpatik) tetapi bukan empati kognitif. Faktor-faktor genetis berkontribusi pada sekitar sepertiga dari faktor-faktor yang menjelaskan adanya perbedaan empati afektif di antara orang-orang. Diasumsikan, faktor-faktor eksternal menjelaskan adanya perbedaan dalam empati kognitif  dan mempengaruhi dua per tiga perbedaan empati afektif. Psikolog Jane Strayer menyatakan bahwa kita semua dilahirkan dengan kapasitas biologis dan kognitif untuk merasakan empati, tetapi pengalaman spesifik kita menentukan apakah potensi bawaan tersebut dihambat atau menjadi bagian yang penting bagi diri.
Situasi spesifik yang dapat meningkatkan atau menghambat perkembangan empati, salah satunya adalah peran dari sekolah dalam mengembangkan program pendidikan karakter. Di Amerika Serikat, 40 dari 50 negara bagian telah menjalankan program-program seperti itu untuk mengajar anak-anak untuk jujur, bertingkah laku baik, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab.
Model prososial yang lebih berpengaruh dari yang disediakan oleh media, adalah model yang disediakan oleh orang tua. Psikiater Rober Coles (1997) menyatakan bahwa kuncinya adalah dengan mengajarkan anak untuk menjadi "baik" dan untuk berpikir mengenai orang lain selain dari diri sendiri. Anak-anak belajar dengan mengobservasi apa yang dilakukan dan dikatakan orang tua mereka dalam kehidupan sehari-hari. Coles yakin bahwa masa sekolah dasar adalah masa yang penting di mana anak dapat mengembangkan atau gagal mengembangkan suatu kesadaran. Tanpa model dan pengalaman yang tepat, anak-anak dapat dengan mudah bertumbuh menjadi remaja yang egois dan kasar dan kemudian menjadi orang dewasa yang sama tidak menyenangkannya.
Contoh-contoh lain yang meningkatkan perkembangan empati, meliputi kehangatan ibu dan pesan yang jelas dan tegas dari orang tua yang menekankan bagaimana pengaruh tingkah laku yang menyakitkan terhadap orang lain. Juga, merupakan hal penting untuk membedakan antara perasaan bersalah yang tepat mengenai penderitaan apapun yang kita sebabkan dengan perasaan bersalah yang tidak tepat mengenai kejadian buruk yang bukanmerupakan kesalahan kita. Rasa empati anak ditingkatkan ketika ketika orang tua dapat mendiskusikan emosi-emosi, tetapi penghambat utama perkembangan empati adalah penggunaan rasa marah oleh orang tua sebagai cara utama untuk mengontrol anak-anaknya.
Terdapat perbedaan individual yang besar dalam disposisi simpati, dan kita mengetahui bahwa anak-anak yang berkarakter simpatik umumnya berasal dari lingkungan yang hangat dan suportif. Anak-anak yang karakter simpatiknya tinggi juga cenderung menjadi anak yang memiliki penalaran moral yang cukup canggih serta cenderung baik dalam mengelola emosi mereka.
Wanita mengekspresikan tingkat empati yang lebih tinggi daripada pria, hal ini disebabkan baik oleh perbedaan genetis atau perbedaan pengalaman sosialisasi.
Empati paling besar ditujukan pada siapa pun (atau apa pun) yang mirip dengan diri sendiri. Contoh yang jelas, manusia lebih cenderung berespons secara empati kepada kesulitan yang dialami oleh mamalia kecil yang lucu seperti anak anjing, anak kucing, dan anak anjing laut daripada kepada kesulitan yang sama yang dialami oleh reptil, ikan, dan serangga yang tidak lucu. Pada spesies kita sendiri, kita paling empati pada manusia lain yang paling mirip dengan diri kita.
Faktor-faktor yang menyebabkan adanya empati kepada orang lain adalah kesamaan dengan diri sendiri, pengalaman dengan bencana yang sama, dan ideologi politik. Dan semua faktor tersebut tidak relevan ketika bencana alam merupakan bencana yang besar.

3.      Faktor Kepribadian Lain yang Berhubungan dengan Perilaku Prososial
Empati dan motivasi altruistik dihubungkan dengan karakteristik positif lainnya, misalnya rasa kenyamanan, motivasi prestasi, kemampuan sosial, dan keadaan emosional positif, tetapi berhubungan secara negatif dengan agresivitas.
Di antara faktor-faktor kepribadian lainnya yang merupakan karakteristik dari mereka yang paling cenderung menolong orang lain adalah kebutuhan akan persetujuan (need for approval). Individu-individu yang tinggi kebutuhannya dalam hal ini berespons pada reward seperti pujian dan tanda penghargaan lainnya. Orang-orang yang mempunyai kepercayaan interpersonal (interpersonal trust) yang tinggi terlibat dalam lebih banyak tindakan prososial daripada orang-orang yang cenderung untuk tidak mempercayai orang lain.
Fakta bahwa banyak aspek dari kepribadian terlibat dalam tingkah laku prososial telah menyebabkan para peneliti menyatakan bahwa suatu kombinasi dari faktor-faktor yang relevan menentukan apa yang disebut sebagai kepribadian altruistik (altruistic personality). Faktor disposisional yang menyusun kepribadian altruistic (altruistic personality) adalah sebagai berikut:
a.       Empati
Mereka yang menolong mempunyai empati lebih tinggi daripada mereka yang tidak menolong. Orang yang paling altruistik menggambarkan diri mereka sebagai bertanggung jawab, bersosialisasi, menenangkan, toleran, memiliki self-control, dan termotivasi untuk membuat impresi yang baik.
b.      Mempercayai dunia yang adil
Orang yang menolong mempersepsikan dunia sebagai tempat yang adil dan percaya bahwa tingkah laku yang baik diberi imbalan dan tingkah laku yang buruk diberi hukuman. Kepercayaan ini mengarah pada kesimpulan bahwa menolong orang yang membutuhkan adalah hal yang tepat untuk dilakukan dan adanya pengharapan bahwa orang yang menolong akan mendapat keuntungan dari melakukan sesuatu yang baik
c.       Tanggung jawab sosial
Mereka yang paling menolong mengekspresikan kepercayaan bahwa setiap orang bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik untuk menolong orang yang membutuhkan.
d.      Locus of control internal
Ini merupakan kepercayaan individual bahwa dia dapat memilih untuk bertingkah laku dalam cara yang memaksimalkan hasil akhir yang baik dan meminimalkan yang buruk. Mereka yang menolong mempunyai locus of control internal yang tinggi. Mereka yang tidak menolong, sebaliknya, cenderung memiliki locus of control eksternal dan percaya bahwa apa yang mereka lakukan tidak relevan, karena apa yang terjadi diatur oleh keuntungan, takdir, orang-orang yang berkuasa, dan faktor-faktor tidak terkontrol lainnya.
e.       Egosentrisme rendah
Mereka yang menolong tidak bermaksud untuk menjadi egosentris, self-absorbed, dan kompetitif.

A.     Kesukarelaan: Motivasi untuk Memberikan Pertolongan Jangka Panjang
1.      Motif Untuk Sukarela
Clary dan Snyder (1999) telah mengidentifikasikan enam fungsi dasar yang berbeda dapat menjadi alas an untuk terlibat dalam aktivitas sukarela. Ketertarikan untuk bersukarela paling efektif jika mereka menyadari bahwa individu-individu yang berbeda memiliki alas an-alasan yang berbeda untuk terlibat dalam aktivitas seperti itu. Enam fungsi tersebut adalah:
a.       Nilai
Untuk berekspresi atau bertindak pada nilai yang penting seperti kemanusiaan. Contoh: "Saya merasa penting untuk menolong orang lain".
b.      Pemahaman
Untuk belajar lebih mengenai dunia atau melatih keterampilan yang sering tidak digunakan. Contoh: "Melakukan kerja sukarela membuat saya dapat belajar melalui pengalaman yang langsung".
c.       Pengembangan
Untuk tumbuh dan berkembang secara psikologis melalui aktivitas sukarela. Contoh: "Melakukan kerja sukarela membuat saya merasa lebih baik mengenai diri saya sendiri".
d.      Karier
Untuk memperoleh pengalaman yang berhubungan dengan karier. Contoh: "Melakukan kerja sukarela dapat menolong saya untuk sampai pada tempat di mana saya ingin bekerja".
e.       Sosial
Untuk memperkuat hubungan sosial. Contoh: "Orang-orang yang saya kenal berbagi ketertarikan pada pelayanan masyarakat".
f.        Perlindungan
Untuk mengurangi perasaan negatif, seperti rasa bersalah, atau untuk menyelesaikan masalah pribadi. Contoh: "Melakukan kerja sukarela adalah pelarian yang baik dari masalah saya sendiri".

2.      Bekerja Sukarela: Apakah Altruisme Terlibat?
Kesukarelaan dipengaruhi faktor bawaan. Misalnya, sukarelawan cenderung untuk memiliki kadar empati yang tinggi, terutama dalam pengambilan perspektif, perhatian yang empatik, dan distress pribadi. Mereka yang bekerja sukarela juga mengekspresikan locus of control internal daripada eksternal.
McAdams dan kolega-koleganya (1997) mendefinisikan generativitas (generativity) sebagai kepedulian dan komitmen orang dewasa pada kesejahteraan generasi berikutnya. Orang-orang yang mempunyai generativitas yang tinggi memperlihatkan ketertarikan dan komitmen ini dengan menjadi orang tua, mengajar apa yang mereka ketahui pada orang-orang muda, dan terlibat dalam tindakan yang akan memiliki pengaruh positif setelah masa hidup mereka.
Altruisme ialah suatu minat yang tidak mementingkan diri sendiri dalam menolong seseorang. Kepribadian altruistik adalah sebuah kombinasi dari karakteristik. Orang-orang secara jelas berbeda dalam kecenderungan prososial, dan peneliti-peneliti telah mengidentifikasikan banyak perbedaan kepribadian di antara mereka yang menolong dan mereka yang tidak menolong.

B.     Siapa yang Menerima Pertolongan, dan Bagaimana Orang Merespons Apabila Ditolong?
1.      Gender: Apakah Wanita Lebih Cenderung Ditolong Daripada Pria?
Meskipun terlihat sebagai stereotip yang merendahkan perempuan, penelitian telah secara konsisten menunjukkan bahwa laki-laki lebih cenderung memberi pertolongan pada wanita yang mengalami kesulitan, meskipun wanita pada semua umur mempunyai empati yang lebih tinggi daripada pria.
Banyak situasi darurat memerlukan keterampilan dan pengetahuan tertentu yang lebih banyak terdapat pada pria daripada wanita (misalnya, mengganti ban kemps). Hal ini mungkin menjelaskan mengapa pengendara wanita yang mempunyai masalah dengan mobilnya mendapatkan lebih banyak bantuan daripada pria atau pasangan pria-wanita dalam situai yang sama. Juga mereka yang berhenti untuk menolong paling sering adalah pria muda yang sedang berkendara sendirian.
Namun, motivasi pertolongan pria seperti ini mungkin tidak seluruhnya prososial atau altruistik. Untuk satu hal, pria lebih sering berhenti untuk menolong wanita yang menarik daripada menolong wanita yang tidak menarik. Tampaknya mungkin sekali bahwa motivasi utamanya adalah romantis dan seksual.

2.      Meminta Pertolongan
Ketidakpastian mengenai apa yang terjadi pada suatu situasi darurat dan ketidakpastian mengenai apa yang harus dilakukan dapat menghambat respons sosial bystander. Ambiguitas dapat menyebabkan penolong yang potensial untuk menahan diri dan menunggu kejelasan. Cara yang paling langsung dan paling efektif bagi seorang korban untuk mengurangi ambiguitas adalah untuk meminta pertolongan dalam cara yang jelas. Jika memungkinkan, orang yang membutuhkan pertolongan akan lebih baik meminta secara spesifik.
Tampaknya jelas dan mudah untuk meminta pertolongan, tetapi mereka yang membutuhkan sering kali tidak dapat melakukannya karena berbagai alasan. Misalnya, pria dan wanita yang pemalu enggan mencari pertolongan dari lawan jenis.
Sebagaimana dengan penolong yang potensial, orang yang membutuhkan pertolongan tidak ingin bereaksi berlebihan dengan emosionalitas yang tidak tepat. Korban juga takut jika orang lain akan mempersepsikan mereka sebagai tidak kompeten apabila mereka meminta pertolongan. Dengan bergantung pada orang lain dapat dicap sebagai orang lemah, terutama pada budaya Barat. Jadi, menerima pertolongan dapat menjadi sangat tidak nyaman.

3.      Bagaimana Rasanya Menerima Pertolongan?
Menerima pertolongan dapat enurunkan self-esteem, terutama jika penolong adalah teman atau seseorang yang sama dengan Anda dari segi usia, pendidikan, dan karakteristik lainnya. Ketika self-esteem terancam, hasilnya merupakan afek negatif yang menciptakan perasaan tidak suka pada orang baik tersebut. Respons negatif yang sama biasanya muncul ketika anggota dari kelompok yang dicap jelek (misalnya, siswa kulit hitam) menerima pertolongan dari kelompok yang tidak dicap jelek (misalnya, siswa kulit putih). Dalam hal ini, menolong dapat dipersepsikan sebagai penghinaan yang merendahkan.
Saat seseorang merespons secara negatif ketika menerima pertolongan, terdapat juga aspek positif yang tidak terlalu terlihat. Ketika ditolong merupakan pengalaman yang sangat sangat tidak menyenangkan sehingga orang tersebut ingin menghindari terlihat tidak kompeten lagi, ia termotivasi untuk terlibat dalam aktivitas self-help di masa depan. Di antara manfaat-manfaat yang lain, motivasi ini dapat mengurangi perasaan ketergantungan.

Menjelaskan Tingkah Laku Prososial: Mengapa Orang Menolong?
Apa yang memotivasi tingkah laku prososial? Banyak teori yang telah diformulasikan, tetapi kebanyakan bergantung pada asumsi biasa bahwa orang-orang berusaha untuk memaksimalkan imbalan (reward) dan meminimalkan hukuman (punishment).

A.     Empati-altruisme: Menolong Orang Lain yang Membutuhkan Membuat Perasaan Menjadi Enak
Kemungkinan penjelasan yang paling tidak egois dari perilaku prososial adalah bahwa orang yang empatik menolong orang lain karena "rasanya menyenangkan untuk berbuat baik". Berdasarkan asumsi ini, Batson dan kolega-koleganya (1981) mengajukan hipotesis empati-altruisme (empathy-altruism hypothesis), yaitu sebuah dugaan bahwa tingkah laku prososial hanya dimotivasi oleh keinginan untuk menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan. Mereka mengungkapkan bahwa setidaknya beberapa tingkah laku prososial hanya dimotivasi oleh keinginan tidak egois untuk menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan.motivasi menolong ini dapat menjadi sangat kuat sehingga individu yang memberi pertolongan bersedia terlibat dalam aktivitas yang tidak menyenangkan, berbahaya, dan bahkan mengancam nyawa. Perasaan simpati dapat menjadi sangat kuat sehingga mereka mengesampingkan semua pertimbangan lain. Perasaan empati yang kuat memberikan bukti yang sangat valid pada individu tersebut, sehingga ia pasti sangat menghargai kesejahteraan orang lain.
Penelitian lain mengindikasikan bahwa ketika pertolongan yang berdasarkan empati tidak berhasil, penolong mengalami emosi negatif. Dengan kata lain, empati yang tinggi tidak hanya menimbulkan tindakan prososial karena tindakan tersebut membuat perasaan menjadi enak, tetapi tidak berhasilnya usaha untuk menolong membuat perasaan menjadi tidak enak.

1.      Penghindaran Empati
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Shaw, Batson, dan Todd (1994). Pengobanan untuk menolong dapat rendah (meluangkan satu jam menyiapkan surat-surat permintaan sumbangan) atau tinggi (terlibat dengan mereka yang tunawisma lebih dari satu jam pada tiga situasi yang berbeda). Setelah mengetahui tugas tersebut (pengorbanan rendah atau tinggi), mahasiswa dapat memilih di antara menerima informasi faktual mengenai orang tersebut atau menerima pesan emosional yang membangkitkan empati mengenai kesulitan yang dialaminya. Ketika pengorbanan untuk menolong adalah rendah, kebanyakan siswa ingin mendengar pesan yang informative. Dengan kata lain, mereka tampaknya terlibat dalam penghindaran empati agar tidak termotivasi untuk terlibat dalam pertolongan yang tinggi pengorbanannya.

2.      Empati dan Altruisme Selektif
Empati juga memainkan peran lain dalam perilaku menolong. Masalah utama muncul ketika keputusan mengenai penggunaan sumber daya yang terbatas untuk menolongsebuah kelompok yang membutuhkan harus diambil. Cara yang terbaik untuk menolong kelompok sebagai satu keseluruhan adalah membagi sumber daya secara sama rata. Namun demikian, jika seseorang yang memiliki sumber daya termotivasi oleh egoisme atau oleh empati yang diarahkan pada anggota kelompok tertentu (altruisme selektif pada individu yang membangkitkan emosi Anda), kelompok secara keseluruhan akan diabaikan.
Meskipun akibat negatif dari egoisme tidak mengejutkan, pengaruh dari altruisme selektif tidak terlalu terlihat. Menyimpan sumber daya untuk diri sendiri (egoisme) jelas tidak baik, tetapi memutuskan untuk menolong satu anggota kelompok (altruisme selektif) biasanya mendapat pujian.

B.     Model Mengurangi Keadaan Negatif: Menolong Dapat Mengurangi Afek Negatif
Teori yang lain mengungkapkan bahwa orang-orang kadang-kadang menolong karena mereka berada pada suasana hati yang jelek dan ingin membuat diri sendiri merasa lebih baik. Penjelasan dari perilaku prososial ini dikenal sebagai model mengurangi keadaan negatif (negative-state relief model). Dengan kata lain, perilaku prososial dapat berperan sebagai perilaku self-help untuk mengurangi perasaan negatif diri sendiri.
Model mengurangi keadaan negatif adalah penjelasan yang menyatakan bahwa perilaku prososial dimotivasi oleh keinginan bystander untuk mengurangi emosi negatifnya sendiri.

C.     Kesenangan Empatik: Menolong Dapat Membuat Perasaan Menjadi Enak – Jika Anda Tahu Bahwa Anda Mencapai Sesuatu
Secara umum benar bahwa perasaan menjadi baik apabila seseorang dapat memberi pengaruh positif pada orang lain. Secara harfiah, memberi dapat benar-benar lebih baik daripada menerima. Menolong kemudian dapat dijelaskan berdasarkan hipotesis kesenangan empatik (empathic joy hypothesis), yaitu penjelasan yang menyatakan bahwa perilaku prososial dimotivasi oleh emosi positif yang diantisipasi penolong untuk dimiliki sebagai hasil dari memiliki pengaruh menguntungkan pada hidup seseorang yang membutuhkan. Dari pandangan ini, penolong berespons pada kebutuhan korban karena dia ingin merasa enak karena berhasil mencapai sesuatu.

Dalam setiap dari tiga model teoritis di atas, kondisi afektif adalah elemen yang penting. Yaitu, perilaku prososial terjadi karena tindakan tersebut meningkatkan perasaan positif atau menurunkan perasaan negatif. Emosi yang dihasilkan oleh tindakan prososial kadang-kadang diberi label helper's high – suatu perasaan tenang, self-worth, dan kehangatan.

D.    Determinisme Genetis: Menolong Orang Lain Dapat Memaksimalkan Kelangsungan Hidup Gen
Model determinisme genetis (genetic determinism model), yaitu penjelasan yang menyatakan bahwa tingkah laku didorong oleh atribut genetis yang berevolusi karena atribut tersebut meningkatkan kemungkinan untuk mewariskan gen seseorang pada generasi berikutnya, didasarkan pada teori umum dari perilaku manusia.
Dalam telaah literature altruisme, Buck dan Ginsberg (1991) menyimpulkan bahwa tidak terdapat bukti adanya suatu gen yang menentukan perilaku prososial. Namun pada manusia, maupun di antara binatang-binatang lain, memang terdapat kemampuan yang berbasis gen untuk mengkomunikasikan emosi dan untuk membentuk ikatan sosial. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial dan mampu berempati. Ketika orang-orang berinteraksi satu sama lain dalam hubungan sosial, "mereka selalu prososial, biasanya menolong, dan sering kali altruistik" (Fiske, 1991, hlm. 209).


Kesimpulan
Keadaan emosional yang positif dan negatif dapat meningkatkan atau menghambat tingkah laku prososial, tergantung pada faktor-faktor spesifik dalam situasi tertentu dan pada bentuk bantuan yang dibutuhkan. Perbedaan individual dalam tingkah laku altruistik sebagian besar disebabkan oleh empati, tanggapan kompleks yang meliputi komponen afektif maupun komponen kognitif. Derajat seseorang mampu berespons dengan empati tergantung pada faktor genetis dan pengalaman belajar. Kepribadian altruistik terdiri dari empati ditambah variabel kepribadian lainnya yang relevan. Orang-orang bekerja sukarela untuk memberikan pertolongan dalam jangka panjang sebagai fungsi dari berbagai motif egois dan tidak egois dan variabel kepribadian yang spesifik. Pertolongan diberikan paling sering oleh pria kepada wanita, setidaknya sebagian karena perbedaan keterampilan yang berhubungan dengan gender dan juga dengan adanya fakta bahwa pria termotivasi asmara atau seks di samping altruisme. Meminta pertolongan mengurangi ambiguitas dan meningkatkan kemungkinan menerima pertolongan. Ketika penolong dan penerima mirip, orang yang ditolong cenderung bereaksi secara negatif dan merasa inkompeten, mengalami penurunan self-esteem, dan marah pada penolong. Respons-respons negatif ini juga cenderung untuk memotivasi tingkah laku self-help­ di masa depan.
Hipotesis empati-altruisme menyatakan bahwa, karena empati, kita menolong mereka yang membutuhkan hanya karena perasaan menjadi enak ketika melakukannya. Model mengurangi keadaan negatif menyatakan bahwa orang menolong orang lain untuk meringankan dan membuat ketidaknyamanan emosionalnya sendiri berkurang. Hipotesis kesenangan empatik mendasarkan aktivitas menolong pada perasaan positif dari pencapaian yang muncul ketika penolong mengetahui bahwa ia mampu memberi pengaruh menguntungkan pada orang yang membutuhkan. Model determinisme genetis melacak perilaku sosial ke dampak umum dari seleksi alam. Perilaku prososial meningkatkan kemungkinan gen seseorang diwariskan pada generasi berikutnya. Akibatnya, tindakan prososial tersebut menjadi bagian dari warisan biologis kita.



DAFTAR PUSTAKA

Baron, Robert A. & Byrne, Donn. 2005. Psikologi Sosial. Edisi Kesepuluh, Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Santrock, John W. 2002. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup. Edisi 5, Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Sears, David O. 1999. Psikologi Sosial 1. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons